Distribusi Tak Merata, Migor Subsidi Langka di Karanganyar

Editor: Agus Sigit

KARANGANYAR, KRJOGJA.com – Kelangkaan minyak goreng subsidi terjadi di pasar tradisional di Kabupaten Karanganyar. Barang yang tersedia tanpa subsidi pun mahal.  Kondisi ini dialami selama dua bulan terakhir. Para pedagang pasar tradisional mendapat jatah migor subsidi dengan jumlah terbatas dari distributor. Pasokan juga tidak stabil.
Pedagang di Pasar Jungke, Suryani mengaku dijatah terakhir distributor migor subsidi pada Selasa (1/2). Setelah itu belum lagi ada kejelasan kapan distribusi berlanjut. “Informasinya akan dicukupi subsidinya oleh pemerintah selama enam bulan. Tapi baru berjalan dua bulan, tetap saja susah mendapatkan barangnya dari distributor,” katanya, Sabtu (5/2).
Ia mengatakan terdapat beberapa distributor migor subsidi di pasar tradisional ini yang menyetor sejumlah merek. “Terakhir kemarin dapat merek Sunco. Saya dapat jatah lima karton (per karton isi 12 bungkus ukuran 1 liter). Selanjutya belum dapat lagi. Udah order juga,” katanya.
Migor subsidi dijualnya Rp 14 ribu per liter. Stok tersebut habis dalam waktu dua hari saja. Lantaran belum lagi memperoleh jatah subsidi, ia terpaksa kulak migor non subsidi. Perliter dijualnya Rp 20 ribu. “Sebenarnya lebih suka jual migor harga standar. Jualnya gampang. Pembeli juga enggak sewot,” katanya.
Kenaikan harga migor dibarengi kenaikan komoditas sembako lain. Suryani mengatakan, tepung terigu sedang mahal-mahalnya.
“Per sak (volume 25 Kg) menjadi Rp185 ribu. Naiknya bareng migor. Sampai sekarang belum turun-turun. Dulunya per sak enggak sampai Rp160 ribu,” katanya.
Sri, pedagang kelontong Toko Bagus Pasar Jungke mengatakan migor subsidi yang didapatkannya dari distributor terbatas. Sehingga ia membatasi pembelian maksimal 2 liter per transaksi. Hanya saja pasokan dari distributor tidak bisa diandalkan rutin.
“Hari ini enggak datang (stok subsidi migor). Terakhir dapat enam karton. Habis dalam dua hari,” katanya.
Ia menduga para distributor juga sedang kesulitan melakukan rafaksi harga. Stok yang tersedia juga tidak merata saat dibagikan ke pengecer.
“Sebenarnya saya kasihan para pembeli UKM. Mereka benar-benar sangat membutuhkan untuk berjualan. Tapi barangnya enggak ada,” katanya.
Barang subsidi yang diterimanya migor merek Fitri ukuran 900 ml dengan harga Rp12.500.
Kasi Perdagangan Disdagnakerkop UKM Karanganyar, Eko Supriyadi mengatakan migor subsidi mulai muncul kembali setelah beberapa lama menghilang. Dia bilang migor subsidi bisa didapatkan di toko modern. “Meski terbatas, sudah ada di swalayan dan minimarket. Tapi kalau di pasar tradisional itu belum tentu ada. Mungkin belum merata distribusinya. Para pedagang di pasar tradisional rebutan dapat jatah,” katanya. (Lim)

BERITA REKOMENDASI