DIWA : Mas Gibran Auranya Semakin Moncer

Di sisi lain menurut analisa DIWA, di atas kertas, Gibran sangat berpeluang menang jika melihat sejarah yang menunjukkan, calon yang diusung PDIP di pilkada Solo tak pernah kalah. Ditambah dengan komposisi koalisi partai pengusung dan hanya Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang tidak masuk dalam barisan pendukung Gibran-Teguh.

Pintu alternatif calon penantang di Pilwalkot Solo dari partai tertutup karena kursi PKS di DPRD setempat tak cukup untuk mengusung paslon. Sementara, jika berkoalisi, partai-partai lain sudah berada di koalisi PDIP.
Bahkan, kata DIWA, PDIP sudah meyakini akan memenangkan Pilwakot Solo. Hal itu dilihat dari target pasangan Gibran-Teguh adalah mengantongi perolehan suara di atas 80 persen, bukan lagi menang atau kalah. “Itu mungkin bisa tercapai ketimbang dengan kotak kosong, karena mengalahkan calon dari perorangan itu jauh lebih mudah,” tutur DIWA.

Alasannya, pasangan Bajo bukan calon yang cukup mengakar di masyarakat Solo. Bagjo-Supardjo hanya hadir saat agenda Pilkada dan tidak ada rekam jejak keduanya terlibat dalam kegiatan politik, sosial, maupun budaya yang menarik perhatikan masyarakat atau pemilih.

“Di depan warga, Mas Gibran ini memilih lebih banyak diam, tidak perlu mengobral janji, melainkan lebih suka mendengarkan apa yang menjadikan keluhannya warga sekaligus mencarikan solusi jalan keluarnya yang terbaik,” pungkas DIWA. (Hwa).

BERITA REKOMENDASI