Dr Soeprayitno Dikukuhkan sebagai Profesor Kehormatan UNS

Editor: Agus Sigit

SOLO, KRjogja.com – Pakar Sumber Daya Manusia (SDM), Dr Soeprayitno MM mendapat gelar Profesor Kehormatan dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo. Pengukuhan Profesor Kehormatan yang pertama ini dilakukan rektor Prof Dr Jamal Wiwoho di Kampus Kentingan Solo, Kamis (31/3). Pengukuhan dihadiri Dirjen Pendidikan Vokasi, Kemdikbudristek Wikan Sakarinto, ST MSc PhD.

Di depan sidang terbuka Senat Akademik, Prof Soeprayitno akan menyampaikan orasi

“Model Pentahelix Dalam Pengembangan Sumber Daya Manusia Era Industri 4.0 (Implementasi Dalam Merdeka Belajar Kampus Merdeka). Ia dikukuhkan sebagai Profesor Kehormatan Bidang Ilmu Manajemen SDM pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB).

Prof Soeprayitno adalah Komisioner Dewan Jaminan Sosial Nasional (DJSN). Selain itu juga menjadi motivator dan sejumlah posisi penting salah satunya di Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo). Ia menjelaskan lanskap SDM di Indonesia saat ini, berdasarkan latar belakang pendidikan dan pekerjaan terdapat 3 hal yang menunjukkan realitas di masyarakat. Ke-3 hal tersebut terdiri dari kaitan antara komposisi keahlian dengan pendidikan, kemudian persoalan yang berhubungan dengan industrial di masa depan dan terkait dengan behavior economic berupa gejala circle money.

“Masalah ketiga behavior economic atau gejala circle money, salah satunya terjadi akibat sikap hedonik di masyarakat. Sehingga, dari sikap itu muncul yang namanya ‘Grazy Rich’. Terjadi flashing yang dipaksa-paksa, seolah-olah sudah kaya.”

Dijelaskan, dalam hal komposisi keahlian versus pendidikan, terjadi kegayutan pekerjaan secara vertikal dan horisontal berupa terjadinya under education dan over education.

Dalam kondisi kegayutan pekerjaan ini realitas di lapangan para lulusan SMA mengerjakan pekerjaan lulusan SD, sementara lulusan S-1 mengerjakan pekerjaan SMA dan Diploma 3. Sedangkan lulusan S-1 yang tidak dapat pekerjaan melanjutkan ke S-2 dan yang S-2 ke S-3.

“Kesenjangan SDM ini terjadi kurang lebih 60 persen dari angkatan kerja. Akibatnya, di Indonesia human capital terjadi loss, karena kondisi yang sesungguhnya seperti itu. Kemudian, secara vertikal orang yang lulus universitas bekerja tidak sesuai kompetensinya,” tandas anggota Majelis Wali Amanat (MWA) UNS itu.

Menyinggung hal yang terkait hubungan industrial, kata Prof Soeprayitno, di masa depan akan terjadi pekerjaan yang hilang dan pekerjaan yang tergantikan.
Kemudian, kondisi itu disusul munculnya generasi milenial dengan berbagai metafaces dan sebagainya. Dia melihat, perguruan tinggi belum menuju ke arah sana. Padahal, anak-anak yang usia 35 tahunan tidak mau menunggu pekerjaan terlalu lama.

Ia mengingatkan kepada anak-anak muda harus hati-hati menghadapi realitas yang ada. Karena, tidak ada (karier) yang sukses tanpa pengorbanan.-(Qom)
UNS

BERITA REKOMENDASI