Dua Mahasiswa Belanda Teliti Banjir Solo, Ini Kesimpulan Mereka

SOLO, KRJOGJA.com – Dua orang mahasiswa Universitas Roterdam program studi water managament, Nigel Diersk dan Rowdy Wesley Daan meneliti masalah banjir dan sampah di wilayah rawan banjir Kota Solo yakni Kampung Sewu dan Mipitan.

Ini riset kolaborasi program magang bagi mahasiswa internasional antara University of Rotterdam dengan Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo Prodi arsitektur dan Laboratorium URDC (Urban-Rural Design and Conservation).

Selain Nigel Diersk dan Rowdy Wesley, mahasiswa yang terlibat Raden Belva dan Nisrina Nurafifah dari program studi arsitektur serta Hafisa Jasmine dari prodi Perencanaan Wilayah, Fakultas Teknik.

Kepada wartawan Nigel dan Rowdy, menjelaskan selama empat bulan di Indonesia telah melakukan riset secara langsung dan tinggal bersama masyarakat kampung di Kota Solo. Ia tertarik meneliti permasalahan di  kampung, Sewu dan Mipitan, karena ada permasalahan besar berupa banjir tahunan dan pencemarn sampah.

"Kami memilih dua kampung dengan masalah yang sama namun karakteristik berbeda, masing-masing sebagai area pembelajaran. Kampung Sewu di Kalurahan Sewu sering banjir dan Kampung Mipitan 4 Sewu merupakan kampung relokasi korban banjir, merupakan studi kasus yang kompleks," katanya, Senin (9/1/2018).

Kampung Sewu yang sering kebanjiran, menarik karena salah satu kampung tanggap bencana di Kota Solo. Di kampung itu ada peran aktif komunitas yang tergabung dalam komunitas Sibat Sewu. Sedangkan Mipitan Sewu, merupakan kampung relokasi dari penduduk Kampung Sewu pada tahun 2008.

"Wilayah permukiman baru itu, saat ini masih tetap mengalami masalah banjir," katanya. Dalam  penelitian, ia berinteraksi langsung dengan masyarakat untuk menggali informasi dan pengetahuan masyarakat tentang masalah banjir. Hasilnya dapat disimpulkan, ternyata dalam penanganan banjir harus lewat birokrasi.

Nigel maupun Rowdy berpendapat, pemahaman masyarakat terhadap banjir perlu dikembalikan. Ia merekomendaskan agar karya mereka seperti water storage atau penyimpnan air, pembuatan tube barrier portable, pembuatan penyimpanan air eksternal di luar Kota Solo, bisa menjadi pengetahuan bersama warga masyarakat Kota Solo.

Pembentukan banyak institusi pengelola air atau water management seperti yang dikembangkan relawan di Belanda. Rekomendasi yang mereka berikan merupakan penerapan dari teori teknologi yang telah dikembangkan secara efektif di Negeri Belanda.(Qom)

BERITA REKOMENDASI