Empu Tari Solo Tutup Usia, Seumur Hidup Mbah Prapto Untuk Seni

SOLO, KRJOGJA.com –  Penari senior asal Solo, Suprapto Suryodarmo meninggal dunia di usia 74 tahun, Minggu (29/12). Sepanjang hidupnya, sang maestro tari spiritual kontemporer ini menginspirasi murid-muridnya yang berasal dari berbagai belahan dunia. 

Ditemui di Rumah Duka Thiong Ting Solo, Melati Suryodarmo yakni putri sulung Suprapto mengatakan ayahandanya meninggal dunia di RS dr Oen Solo pada Minggu (29/12) pukul 01.30 WIB.

Mbah Prapto, demikian Suprapto akrab disapa, mengalami serangan jantung. Menurut Melati, ayahandanya itu kerap bepergian ke luar kota bahkan ke luar negeri dalam pementasan maupun proyek edukasi lainnya. 

“Ternyata bapak memang sudah lemah. Pulang dari Eropa ambruk. Tapi memaksa bangkit untuk mengajar. Jarang beliau mengeluh sakit. Kalau sudah enggak kuat, biasanya menelepon saya. Tapi saya enggak serumah dengan beliau dan lagipula saya sering bepergian,” katanya kepada wartawan, Minggu pagi. 

Mbah Prapto, pendiri padepokan Lemah Putih di Bonorejo Desa Plesungan Gondangrejo Karanganyar, meninggalkan tiga orang anak, tujuh cucu dan seorang cicit. Menurut rencana, jenazah akan disemayamkan di Pendopo Taman Budaya Jawa Tengah pada Senin (30/12). Sekitar pukul 13.00 WIB, Jenazah Suprapto akan diberangkatkan ke Delingan, Karanganyar untuk dikremasi.

Suprapto adalah pencipta Joget Amerta yang sering disebut sebagai ‘gerak bebas’ mengadopsi aktivitas sehari-hari. Dengan tari tersebut, Suprapto mengajak para muridnya melakukan komtemplasi kehidupan, perenungan, meditasi, hingga membangun kesadaraan kemanusiaan sebagai bagian dari alam dan sebagai bagian dari penciptaan. Pentasnya ke Jerman (bersama koreografer Sardono W Kusuma) dalam Festival Pantomim Internasional tahun 1982 mempertemukannya dengan orang-orang yang memiliki pendekatan gerak bebas, sama dengan dirinya.

Setiap tahun sejak lawatannya yang pertama itu, Mbah Prapto terus-menerus diundang untuk memberikan workshop dan mementaskan jogetnya di Eropa, Australia, Filipina, Korea, Jepang dan Amerika Serikat. Ketika jaringannya mulai tersebar di banyak negara, ia mendirikan Padepokan Lemah Putih, sebuah wadah untuk menampung murid-muridnya pada 1986. Di padepokan itulah kemudian lahir komunitas Sharing Movemen. Istilah ini untuk menyebut teknik mengajar Mbah Prapto yang lebih banyak sharing.

“Bagi beliau, hidupnya adalah jalan kesenian. Hidupnya dipersembahkan untuk mendorong, merangkul dengan penuh cinta kasih dan selalu nyengkuyung. Bapak luar biasa semangatnya. Enggak pernah merasa tua. Rasa ingin tahunya besar. Mau belajar dari yang muda-muda. Tiap tahun bikin karya kolaborasi. Bahkan mengajar di workshop memakai skype” katanya. (Lim)
 

BERITA REKOMENDASI