Farmasis Purworejo Dimotivasi untuk Berwirausaha

PURWOREJO, KRJOGJA.com – Farmasis atau apoteker di Jawa Tengah dan Yogyakarta diajak membangun bisnis mandiri pada bidang yang mereka kuasai. Persaingan farmasis dan usaha kefarmasian semakin ketat di masa yang akan datang seiring semakin terbukanya peluang tenaga apoteker serta usaha farmasi asing ke Indonesia. 
  
Hal tersebut mengemuka dalam seminar kefarmasian Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) Purworejo yang diikuti 122 apoteker sejumlah daerah Jawa Tengah dan Yogyakarta, di Graha Siola. "Kami ingin membuka wawasan apoteker Purworejo dan sekitarnya, bahwa peluang usaha pada bidang obat-obatan masih terbuka luas," ujar ketua panitia seminar, Vina Anggarini Apt MSc, kepada KRJOGJA.com, Senin (1/7).
  
Guna mendukung tema tersebut, IAI Purworejo menghadirkan pengurus PD IAI Jawa Tengah Drs Partana Boedirahardja Apt SH MPH, pengusaha apotek Nunu Nugraha dan Kasi Pengawas dan Pengendalian Perizinan Dinas Penanaman Modal Perizinan Terpadu Satu Pintu (PMPTSP) Purworejo Veby Yudha Apriyani. Ketiga narasumber memaparkan peluang dan tantangan bisnis farmasi serta alur perizinan yang harus ditempuh apabila ingin membuka usaha itu.
  
Ketua IAI Purworejo Drs Budi Santoso Apt menambahkan, membuka usaha bidang kefarmasian merupakan salah satu jalan sukses secara ekonomi. Meski demikian, sebanyak 105 apoteker anggota IAI Purworejo, seluruhnya telah bekerja pada sejumlah apotek, instalasi farmasi puskesmas dan rumah sakit.  Selain itu, ada kepuasan tersendiri ketika pelaku usaha farmasi mampu memberikan pelayanan obat-obatan secara optimal kepada masyarakat. "Farmasis diharapkan bisa terlibat langsung dalam dunia kewirausahaan, menjadi pengusaha tangguh sehingga dapat berkontribusi bagi perekonomian Purworejo. IAI Purworejo bahkan punya divisi kewirausahaan untuk wadah farmasis yang memiliki minat usaha," tegasnya.

Pemateri Nunu Nugraha mengemukakan, peluang bisnis farmasi di Indonesia masih terbuka luas. Indonesia memiliki empat BUMN farmasi, 30 perusahaan asing, 170 perusahaan dalam negeri, 1.600 distributor dengan lebih dari 20 ribu produk. "Namun 95 persen bahan baku obat masih impor dan kita masih lemah dalam upaya research and development. Kalah jauh dibanding pengembangan yang dilakukan raksasa farmasi dunia," tuturnya.

Namun, lanjutnya, Indonesia masih memiliki peluang besar untuk bersaing dalam bisnis global obat herbal. Indonesia juga memiliki pangsa pasar obat herbal yang terus meningkat sepanjang tahun. "Tahun 2006 Rp 5 tiliun, tahun 2012 melonjak jadi Rp 13 triliun, atau kurang lebih dua persen pasar obat herbal di dunia. Ini peluang besar yang harus disikapi para apoteker Indonesia," tandasnya.(Jas) 

BERITA REKOMENDASI