Fokus Tangani Kelompok Rentan Miskin

SOLO, KRJOGJA.com – Terkait pencegahan tindak pidana terorisme, Pemerintah Kota (Pemkot) lebih fokus menangani kelompok masyarakat rentan miskin, selain pula warga berkategori miskin dan sangat miskin yang dinilai cukup rawan terpengaruh faham radikal. Dari total populasi penduduk Kota Solo sejumlah 520 ribu jiwa, jumlah warga berkategori rentan miskin mencapai 206 ribu jiwa atau sekitar 40 persen, sedangkan warga berkategori miskin dan sangat miskin, hanya sekitar 10 persen.

Menjawab wartawan usai Sarasehan Peningkatan Wawasan Kebangsaan yang dimotori Badan Nasional Penanggulangan Terorisme, di Loji Gandrung, Rabu (6/12/2017), Walikota FX Hadi Rudyatmo mengungkapkan, kemiskinan disebut-sebut sebagai salah satu penyebab aksi terorisme. Banyak warga tergiur mengikuti faham radikal karena terpengaruh tawaran-tawaran yang secara ekonomi lebih menjanjikan, selain pula keterbatasan tingkat pemahaman keagamaan.

Program peningkatan kesejahteraan bagi warga miskin dan sangat miskin, menurut pria yang akrab disapa Rudy, cukup beragam, baik yang diinisiasi pemerintah pusat maupun daerah, diantaranya bantuan beras miskin, Kartu Indonesia Sehat (KIS), Program Keluarga Harapan (PKH), Kartu Indonesia Pintar (KIP), dan sebagainya. Sedangkan kelompok warga rentan miskin, nyaris tidak tersentuh program-program tersebut, sehingga Pemkot Solo sejak beberapa tahun lalu memfasilitasi dengan dukungan dana bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

Sebagai gambaran Rudy menyebut, ketika anggota keluarga berkategori rentan miskin tersebut terkena penyakit yang membutuhkan biaya besar, hampir pasti akan jatuh miskin, karena tidak memiliki jaminan kesehatan. "Karenanya, Pemkot Solo memfasilitasi dengan memberikan KIS dengan pembayaran premi ditanggung APBD, bantuan biaya pendidikan, rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH), dan lain-lain," ujarnya sembari menyebut, dengan harapan status ekonomi mereka dapat menaik, sekaligus tak mudah terpengaruh faham radikal.

Terpisah, Kepala Biro Perencanaan Hukum dan Humas, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Bangbang Surono, menyebutkan, dari hasil pemetaan atas kasus-kasus terorisme yang terjadi selama ini, Kota Solo dan sekitarnya memang tergolong rawan terhadap penyebaran faham radikal. Kondisi semacam itu, mesti diantisipasi, terutama dalam bentuk pencegahan yang antara lain fokus pada peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Kesenjangan sosial ekonomi yang cukup lebar, menurutnya, menjadi salah satu penyebab seseorang terperangkap dalam faham radikal, selain pemahaman keagamaan yang relatif terbatas. Karenanya, dia mengajak seluruh lembaga pemerintah bersama-sama meningkatkan kesejahteraan masyarakat, sehingga nantinya tak begitu gampang tergiur mengikuti faham radikal hanya karena tawaran-tawaran menjanjikan. Saat sarasehan, BNPT juga menyerahkan bantuan 10 paket rahabilitasi RTLH senilai Rp 150 Juta untuk warga Solo.(Hut)

 

BERITA REKOMENDASI