Gardal Belajar buat Bahan Bangunan dari Plastik

KUDUS, KRJOGJA.com – Pemanfaatan limbah rumah tangga menjadi barang termanfaatkan menginspirasi para pemuda yang tergabung di Gerakan Aspirasi Muda Lawu (Gardal), untuk berinovasi. Metode pembuatan bahan bangunan dan kerajinan berbahan dasar sampah plastik oleh Sedulur Sikep di Kudus, bakal disempurnakan. 

"Masalah sampah di Karanganyar belum bersolusi. Kita melihat pengolahannya di Kudus, dimana plastik-plastik dilebur kemudian dicetak menjadi paving block, batu tempel dan asbak. Maka dari itu, kami ingin mempelajari dan menerapkannya di Karanganyar," ujar Komandan Gardal, Ananda Novel kepada KR di sela kunjungannya di rumah produksi paving block milik salah satu anggota Sedulur Sikep di Kudus, Gunondo, warga Dukuh Kaliyoso, RT 5 RW 6, Desa Karang Rowo, Kecamatan Undaan, Kudus, Sabtu (29/9). 

Sebelum memulai pembelajaran, Gardal disambut hangat Gunondo dan dua kerabatnya, Nurhadi dan Arif. Mereka berbincang tentang asal mula pengolahan limbah, metode pembuatan manual hingga kendala permodalan. Gardal juga mempelajari kearifan lokal masyarakat suku Samin yang tetap memegang teguh tradisinya. Dalam sesi selanjutnya, Gardal diperlihatkan cara membakar memilah sampah plastik kering kemudian membakarnya.

Untuk membuat satu block paving dibutuhkan sekilo plastik. Bermacam plastik dilelehkan di lempengan kemudian dimasukkannya ke cetakan paving, yang sebelumnya telah diolesi cairan minyak. Demikian pula ketika mencetak batu hias dinding.

"Ukuran paving dengan ketebalan 4 cm, diameter 12 cm. Dan untuk batu tempel ukuran 20 cm x 40 cm," jelas Nurhadi. 
Bahan yang masih panas dibiarkan di ruang terbuka sampai benar-benar dingin. 

"Proses pembuatan 15-30 menit. Paving block belum rapi, karena masih manual. Belum bisa dijual. Namun untuk asbak, sudah ada yang memesan. Paving block rencana dijual Rp 6 ribu per buah sedangkan asbak Rp 35 ribu," katanya. 
Lebih lanjut Noval mengatakan, para peserta pelatihan didorong mempelajari mekanisasi dari cara manual pembuatan paving block. 

"BUMDes di Karanganyar diarahkan mengolah sampah. Kalau rekan-rekan bisa membuat mesin dan menguasai tekniknya, maka bisa memajukan BUMDes masing-masing. Ini sangat potensial menumbuhkan UMKM dan mengurangi sampah," katanya. (Lim)
 

BERITA REKOMENDASI