Gas Melon Tembus Rp 21 Ribu

SRAGEN (KRjogja.com) – Gal elipiji bersubsidi ukuran 3 kilogram di Kabupaten Sragen dilaporkan sulit didapat beberapa hari terakhir. Kalaupun ada, harga elpiji melon sudah meroket, tembus Rp 21 ribu pertabung di tingkat pengecer.

Berdasarkan pantauan di lapangan, kelangkaan gas ini terjadi di merata di sejumlah kecamatan. Seperti di kampung Centel Kulon, Kecamatan Sragen, harga gas mencapai Rp 21 ribu per tabung. Sementara di Kecamatan Kedawung, harga jualnya juga sudah tinggi. Di Kecamatan Karanngmalang, meski harganya masih berkisar Rp 18 ribu di tingkat pengecer, namun konsumen harus pesan dulu sebelum membeli.

Hal yang sama terjadi juga di kawasan Sragen Utara seperti Kecamatan Tanon, Gemolong dan Sumberlawang. Di sejumlah kecamatan tersebut, gas juga sulit didapat dan harganya sudah mencapai Rp 20 ribu pertabung. "Saya harus antri pesan dulu, baru tiga hari kemudian barangnya ada. Itupun harganya sudah mahal," ujar Retno, ibu rumah tangga yang tinggal di Perumahan Margoasri, Kecamatan Karangmalang, Sragen, Kamis (1/9/2016).

Retno mengaku heran dengan fenomena langkanya gas melon ini, karena libur Idul Adha masih beberapa hari ke depan. Biasanya setiap hari agama atau hari libur, stok elpiji memang berkurang. "Lha ini belum hari kurban, gas sudah menghilang. Kami juga tidak tahu kenapa, karena itu urusan agen dan penjual," jelasnya.

Kelangkaan gas ini juga disoroti Wakil Ketua DPRD Sragen, Bambang Widjo Purwanto. Dia mendesak Pemkab Sragen dalam hal ini Dinas Perdagangan segera turun ke lapangan menyelidiki penyebab kelangkaan gas. "Dinas jangan hanya duduk di balik meja. Segera turun ke lapangan selidiki penyebab gas mahal," tandasnya.

Bambang menduga ada permainan di balik kelangkaan gas ini. Entah itu di tingkat agen ataupun pengecer, permainan gas terjadi sehingga terjadi kelangkaan. "Kalau momen Lebaran, saya masih bisa memaklumi langka karena terjadi kelangkaan. Lha ini belum Lebaran kondisinya sudah parah," tegasnya.

Bambang mengaku pernah memergoki sepeda motor membawa beronjong berisi penuh tabung elpiji melon yang dibawa dari Sragen menuju Ngawi. "Setahu saya, di daerah Ngawi kondisinya lebih parah sehingga gas dari Sragen banyak yang dilarikan ke sana. Selain itu banyak rumah makan yang kedapatan memakai gas 3 kilogram, padahal ini jelas melanggar," tambahnya. (Sam)

 

BERITA REKOMENDASI