Gelak Tawa Tanpa Suara Warnai Hari Tuli Sedunia

KARANGANYAR, KRJOGJA.com – Ratusan penyandang bisu-tuli asal eks-karisidenan Surakarta berkumpul dengan sesamanya di Jalan Lawu saat car free day (CFD) Karanganyar, Minggu (30/9). Mereka merayakan Hari Bahasa Isyarat Internasional dan Hari Tuli Sedunia dengan cara istimewa. 

Dengan ekspresi suka, mereka menyaksikan aksi rekannya berkisah dengan bahasa isyarat, hingga sesekali mengundang gelak tawa. Hanya kalangan terbatas yang mengerti kisah itu. Berbagai ekspresi ditunjukkan seperti kaget, cemas hingga tersenyum. Di ruang bebas asap kendaraan bermotor itu, mereka duduk melingkari rekannya yang sedang beraksi. Ada pula yang mempertontonkan kemampuannya menari dan pantomim. Hanya gerakan dan ekspresi, aktivitas itu nyaris tanpa suara. 
"Acara ini menjadi ajang untuk menyosialisasikan bahasa isyarat ke masyarakat umum," kata Tarni, Bendahara Persatuan Tuna Rungu Karanganyar (PATAR) kepada wartawan. 

Beberapa penyandang difabel mengajari bahasa isyarat kepada pengunjung CFD yang berminat. Beberapa lainnya menyebarkan brosur tentang huruf-huruf bahasa isyarat, yang biasa digunakan untuk berkomunikasi dengan penyandang tuna rungu. 
Kepala SLB B YPALB Karanganyar Farida Yuliati mengungkapkan, masyarakat perlu belajar bahasa isyarat agar bisa lebih mudah berkomunikasi dengan penyandang tuna rungu. 

"Di beberapa negara maju, sudah banyak masyarakat yang tahu bahasa isyarat. Kalau di Indonesia, masih terasa asing. Padahal ini perlu, agar masyarakat tidak menganggap orang tuli itu beda dan aneh. Pada dasarnya, mereka bisa dipahami dan dimengerti. Hanya saja cara komunikasinya yang berbeda," jelasnya.

Sekadar tahu, Hari Bahasa Isyarat Internasional diperingati setiap 23 September, sementara Hari Tuli se-Dunia diperingati setiap 29 September. (Lim)

BERITA REKOMENDASI