Gusti Moeng Prihatin : Kesakralan Bedhaya Ketawang Luruh Seperti Tarian Jalanan

SOLO, KRJOGJA.com – Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Wandansari Koes Moertiyah prihatin kesakralan tarian Bedhaya Ketawang yang bakal digelar pada
acara Tingalan Dalem Jumenengan (ulang tahun kenaikan tahta raja) ke-15 Raja Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat Sampeyandalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan (ISKS) Pakubuwono XIII pada Senin, 1 April 2019 telah kehilangan kesakralannya bahkan luruh tak ubahnya seperti tarian jalanan.

Pasalnya selama tiga kali jumenengan, PB XIII Hangabehi melakukan pembiaran, bahkan prasyarat ritual bagi sembilan penari Bedhayq Ketawang tidak lagi dikedepankan, bahkan dilanggar pakemnya.

GKR Wandansari yang akrab dipanggil Gusti Moeng, Sabtu (30/3/2019) di Badan Pengelola Kraton Kasunanan Surakarta kepada wartawan merasa miris melihat raja yang jumeneng melakukan pembiaran terhadap tarian pusaka yang konon tercipta oleh raja Mataram  Sultan Agung Hanyakrakusuma (1613-1645) yang mencipta tarian Bedhaya Ketawang  sambil  laku ritual semedi.

"Ingkang  Sinuwun PB XIII bisa mendapat kemarahan bebendu dari para leluhur karena sudah kali ke tiga melakukan pembiaraan, tarian sakral Bedhaya Ketawang yang pakemnya harus ditarikan penari yg masih gadis suci, hanya boleh diperagakan di Sasana Sewaka hanya boleh latihan pada malam Anggara Kasih (Selasa Kliwon) semuanya dilanggar seenaknya. Padahal tari Bedhaya Ketawang diyakini masyarakat  Jawa  sebagai simbol penyatuan antara raja dan rakyatnya dan antara Tuhan dan ciptaan-Nya (Manunggaling kawula Gusti)." papar Gusti Moeng.

"Saya miris kalau leluhur marah , sang raja maupun penarinya terkena bebendu (hukuman secara spritual) saya tidak mau tanggung jawab,"ujar Gusti Moeng yang menarikan Bedhaya Ketawang sejak kanak-kanak hingga menjadi pelatih tari Bedhaya Ketawang paling seniorkepada KRJOGJA.COM menjelang tingalan jumenengan.
Jangankan penarinya melakukan laku spiritual, seperti puasa serta laku prihatin, mereka tidak mengikuti tahapan sebagai penari Bedhaya Ketawang harus diseleksi, tidak sembarang langsung bisa menarikan Bedhaya Ketawang yg sakral itu.
Tarian ini dibawakan oleh sembilan orang penari putri selama 1, 5 jam. Karena memiliki kesakralan tersendiri, tarian ini hanya boleh dipentaskan pada saat acara Tingalan Jumenengan atau peringatan kenaikan tahta Raja Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

 Begitu sakralnya, baik penari ataupun hadirin diwajibkan untuk mentaati beberapa syarat khidmatnya Tari Bedhaya Ketawang. (Hwa)

BERITA REKOMENDASI