Hadapi Tantangan Makanan Sehat

SOLO,KRJOGJA.com – Meski wisata kuliner Solo memiliki brand cukup kuat, namun menghadapi tantangan besar dalam pasar global, terutama terkait dengan era makanan sehat. Berbagai jenis kuliner khas Solo yang selama ini legendaris, memiliki kandungan lemak cukup tinggi, sehingga kalangan tertentu menempatkannya sebagai jenis makanan kurang baik bagi kesehatan.

Ketua Forum For Economic Development and Employment Promotion, David R Wijaya, menjawab wartawan di sela dialog penguatan wisata kuliner di Omah Sinten, Rabu (10/5), mengungkapkan, sejauh ini sebagian besar wisatawan domestik memang masih mengedepankan cita rasa dalam menentukan pilihan kuliner. Mereka pada umumnya nyaris tak menghiraukan kandungan zat di dalam makanan tersebut dengan pertimbangan aspek kesehatan, yang penting lezat dan mak nyus, atau sering diistilahkan keplek ilat.

Berbeda dengan wisatawan asing, terutama dari negara-negara maju, sangat mempertimbangkan aspek kesehatan dalam memilih jenis makanan. Tak menutup kemungkinan, suatu saat nanti, wisatawan ataupun masyarakat pada umumnya, berperilaku serupa, sehingga kalangan pelaku jasa wisata kuliner mesti mengantisipasi sejak dini. "Artinya, perlu treatment tertentu, jenis kuliner dengan kandungan lemak tinggi misalnya, bisa ditekan serendah mungkin hingga menjadi makanan sehat, tanpa harus mengurangi cita rasa," ujar David.

Pelaku jasa wisata kuliner, menurutnya mungkin sulit menemukan treatment untuk melahirkan makanan sehat, sehingga perlu sinergitas dengan kalangan akademisi lewat penelitian-penelitian ilmiah. Dia meyakini, kemajuan ilmu pegetahuan dan teknologi sangat memungkinkan untuk melahirkan makanan sehat dengan perlakuan-perlakuan tertentu, tanpa menghilangkan cita rasa.

Sekarang tergantung pada kalangan akademisi dalam dedikasinya bagi masa depan wisata kuliner di Solo. Jika hal itu dapat diwujudkan, wisata kuliner khas Solo akan semakin memuncak di papan atas. Dalam logika sederhana, ketika kuliner khas itu disajikan apa adanya seperti saat ini, telah menjadi buruan, sehingga jika nanti memiliki brand sebagai makanan sehat, dipastikan semakin melegenda.

Selain itu, kreativitas penyajian serta kemasan, mesti dipersiapkan sejak awal ketika ingin memasuki pasar global. Di beberapa daerah, telah melakukan lompatan dengan mengemas kuliner yang biasanya disajikan secara langsung menjadi makanan dalam kaleng hingga mampu menembus pasar ekspor. "Mungkin saja, suatu saat nanti, dengan perlakuan khusus, thengkleng dapat di kemas dalam kaleng," ujarnya sembari menyebut, namun ini memerlukan penelitian untuk menemukan treatment paling tepat. (Hut)

 

BERITA REKOMENDASI