HamaTikus Kian Meresahkan, Petani Lepas Burung Hantu

KARANGANYAR, KRJOGJA.com –  Penggunaan musuh alami dinilai efektif mengatasi hama tikus di lahan pertanian. Desa Jati Kecamatan Jaten Kabupaten Karanganyar Jawa Tengah memelihara 20 pasang burung hantu yang siap menghabisi si pemusnah padi itu.

Kepala Desa Jati, Haryanta mengatakan sembilan pasang butung hantu telah dikarantina di kandangnya. Ia membeli hewan bernama ilmiah Tyto Alba itu dari Demak. Rumah burung hantu dipasang tinggi-tinggi di atas rumpun padi. Sedangkan 11 pasang burung hantu sedang dikirim ke wilayahnya.

“Kami menganggarkan di APBDes Rp 20 juta untuk membuat rumah burung hantu atau rubuha dan burung hantunya. Semoga bisa mencegah serangan tikus ke sawah-sawah kami,” kata Haryanta kepada wartawan di areal persawahannya, Kamis sore (20/2).

Sawah di desa ini tergolong rawan serangan tikus. Wilayah perbatasan dengan Kabupaten Sukoharjo dan Desa Suruhkalang membuatnya riskan diserang hewan pengerat yang lebih dulu menghabisi lahan pertanian di wilayah tetangga. Haryanto mengatakan, tikus tak boleh lagi mewabah.

“Memelihara burung hantu untuk musuh alami tikus sudah dilakukan untuk kali kedua. Dulu, delapan tahun lalu, kami juga melakukan cara ini karena hama ini,” katanya.

Nantinya, 20 rubuha akan dipasang secara tersebar ke 150 hektare sawah. Para petani di lima kelompok diminta mengawasi dan memelihara burung hantu tersebut. Terutama menjauhkannya dari incaran pemburu.

“Kami memiliki Perdes yang melarang perburuan burung apapun di Jati. Kalau tertangkap, didenda Rp 2 juta,” katanya.

Kepala Dinas Pertanian Peternakan Perikanan dan Pangan Karanganyar, Siti Maesyaroh mengatakan penggunaan musuh alami organisme pengganggu tanaman dinilai efektif mengatasi problem pertanian itu. Selain tak membawa efek samping juga menjaga ekosistem.

“Perlu digalakkan penggunaan burung hantu. Kami akan mengupayakan pengadaannya oleh pemerintah kabupaten di desa-desa yang marak serangan tikus,” katanya.

Kades Suruhkalang, Jaten, Wawan Tohari mengatakan telah menganggarkan Rp 20 juta dari APBDes untuk keperluan serupa. Di wilayahnya, serangan tikus ke sawah tergolong parah. (Lim)

BERITA REKOMENDASI