Hati-hati Membuat Regulasi Terkait Agama, Masalah Baru Bakal Muncul

SOLO, KRJOGJA.com – Prof Dr Haedar Nasir berharap jangan semua kehidupan di Indonesia diatur dengan regulasi termasuk dalam keagamaan. Kalau memang akan membuat regulasi yang terkait dengan kehidupan keagamaan, harus dengan seksama, jangan justru menimbulkan masalah.

"Kalau kita melakukan regulasi hanya untuk satu agama dengan konotasi latar belakang radikalisme akan bisa jadi bias dan masalah," kata Ketua PP Muhammadiyah Haedar Nasir usai menghadiri pengukuhan dua guru besar Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Sabtu (07/12/2019).

Menurutnya, problem radikalisme luas. Bukan hanya di lingkungan umat beragama apalagi di satu agama, tapi juga dalam kehidupan masyarakat. Jadi bisa merembet ke aktivitas sosial lain. Dicontohkan kalau harus semua disertifikasi, maka dalang, seniman pun juga harus disertifikasi.

Prof Haedar sangat setuju semua hal yang menyangkut problem kebangsaan termasuk soal kekerasan, intoleransi harus menjadi komitmen kita bersama baik pemerintah maupun seluruh kekuatan masyatakat. Tapi cara menghadapinya harus dengan cara yang sebaik baiknya tidak boleh ada diskriminasi.

Dua orang guru besar baru dari Fakultas Farmasi yang dikukuhkan rektor Prof Dr Sofyan Anif yakni Prof Dr Muhtadi dan Muhammad Da’i MSi Apt. Lahirnya guru besar akan menjadi kekuatan. Dalam membangun Indonesia ke depan dibutuhkan pranata standar dan institusional. Jadi tidak bisa melompat non institusional

"Perguruan tinggi dan civitas akademika harus menjadi kekuatan pencerah untuk mencerdaskan bangsa. Indonesia masih perlu transformasi yang panjang untuk menjadi modern," tambahnya.(Qom)

BERITA REKOMENDASI