Hidup Melarat Tanpa Sanak Saudara, Mulyadi-Repyoh Saling Menguatkan

KARANGANYAR, KRJOGJA.com – Berada di kondisi serba kekurangan tak membuat putus harapan pasangan lanjut usia asal Rt 03/Rw XI Desa Tohkuning, Karangpandan, Mulyadi (70) dan istrinya Repyoh (65). Berbagai ujian hidup dihadapinya dengan saling menguatkan.

Keduanya tinggal di sebuah rumah reyot berlantai tanah yang dipadatkan. Rumah itu nyaris tak terlihat karena tertutup pohon bambu rindang di depannya. Diceritakan, mereka tidak mendapat kesempatan melihat anak-anaknya lebih lama.

"Putra saya meninggal dunia karena diabetes 10 tahun lalu. Padahal dia belum lama menikah. Sedangkan dua kakaknya meninggal dunia juga. Hanya beberapa bulan setelah persalinan," kata Repyoh saat berbincang dengan KRJOGJA.com, Sabtu (27/1/2018).

Wanita renta ini sedang menanak nasi di atas tungku kayu. Ia sebenarnya memiliki sebuah tabung gas ukuram 3 kilogram dari bantuan pemerintah bertahun-tahun silam. Lantaran tak memiliki uang cukup, tabung melon selalu kosong. Kayu yang dipakainya menyalakan tungku dipungut dari pekarangan rumah. Sedangkan beras yang ditanaknya itu dibeli dari hasil menjual dedaunan.

"Jual daun pisang ke pasar. Dapat uang enggak banyak, paling Rp 20 ribu. Hanya cukup beli sekilo beras dan lauk seadanya. Besok jual lagi yang bisa laku," katanya.

Wanita renta ini harus berjuang sendirian menghidupi dirinya dan suami. Sejak tiga tahun lalu, Mulyani sulit menggerakkan kaki dan tangan sehingga berhenti mengasong koran. Pekerjaan itu digelutinya selama puluhan tahun sebelum akhirnya tumbang. Loper koran ini biasanya menjajakan dagangannya di Pasar Karangpandan dan Tawangmangu. Kini, aktivitasnya hanya di tempat tidur saja.

"Sudah berobat ke dua dokter di Plangsalam dan Karangpandan. Tapi masih seperti itu kondisi suami saya. Sebenarnya punya Jamkesmas. Hanya saja repot bolak balik. Jauh ke RS," kata Repyoh sambil menata daun pepaya yang akan dijualnya.

Repyoh masih bersyukur diberi kesehatan dan kemandirian. Ia tak mau meminta-minta meski orang tak punya. Saat para tetangga bercengkrama dengan keluarga di ruang terang, ia cukup menyalakan lilin dan menghibur diri dengan memandangi foto lusuh mendiang putranya atau berbincang dengan suaminya.

"Hidup saya seperti ini. Yang penting selalu bersyukur. Enggak ada listrik, pakai lilin. Seminggu habis sekotak Rp 7 ribu," katanya.

Selain rumah Repyoh tak teraliri listrik, juga tak bersanitasi bagus. Perabot kotor dibiarkan tergeletak di depan rumah. Repyoh menunggu air hujan memenuhi ember yang akan dipakainya mencuci perabot.

Nestapa keluarga ini direspons cepat Pejuang Social Community (PSC). Komunitas pemuda yang bergerak di bidang sosial itu memberikan bantuan sekadarnya. Mereka berencana memberikan santunan lagi dari pengumpulan donasi.

"Ada anggota yang tinggal di sekitar sini. Dia cek dan merasa kalau mbah Repyoh dan Mulyadi ini butuh bantuan," kata Koordinator PSC, Marfuah Dwiyanti. (Lim)

 

 

 

BERITA REKOMENDASI