HIV-Aids di Karanganyar Meroket

KARANGANYAR (KRjogja.com) – Penanganan HIV-Aids tak bisa lagi mengandalkan kesediaan penderita mengikuti program pendampingan. Pemerintah dan sukarelawan perlu lebih aktif mencari para penderita dan kalangan rentan terjangkit virus mematikan tersebut.

Hal itu terangkum dalam rapat koordinasi penanggulangan HIV-Aids yang menghadirkan stakeholder di Kabupaten Karanganyar di rumah dinas wakil bupati, Senin (15/8/2016). Rapat yang dipimpin Wabup Rohadi Widodo itu menghadirkan unsur PKK, Komisi Penanggulangan Aids (KPA), Dinsosnakertrans, DKK, Satpol PP, Dishubkominfo, asosiasi pengusaha dan sebagainya.

“80 persen desa di Karanganyar memiliki WPA (Warga Peduli Aids) yang sudah ditetapkan SK. Peran WPA sangat dibutuhkan karena persebaran HIV-Aids sudah ada di 17 kecamatan. Bahkan di salah satu desa, terdapat 20 lebih orang terjangkit penyakit itu,” kata Wabup.

Peran WPA membantu KPA mendeteksi pengidap HIV-Aids agar segera ditangani pendamping program. Dikhawatirkan, penderita menularkan ke orang lain karena minim pengetahuan tentang penyakit itu. Instansi teknis diminta ikut memetakan lokasi penyebaran virus tersebut sekaligus memberi sosialisasi pencegahan. Adapun lokasi prostitusi terselubung dan penginapan favorit perselingkuhan menjadi sasaran utama.

“Kita akan melakukan sweeping. Jangan sampai penderita HIV-Aids menjajakan diri. Hotel-hotel tiga jam-an (kelas melati) juga perlu disweeping. PHRI (Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia) akan dilibatkan” katanya.

Disebutnya, pengungkapan kasus HIV-Aids di Bumi Intanpari terus mengalami peningkatan. Jumlah penderita hingga 2015 mencapai 327 orang dengan tambahan 62 orang tercatat Januari-Juni 2016. Ini belum termasuk penderita asal Karanganyar yang ditangani di Solo. (M-8)

 

BERITA REKOMENDASI