Illegal Fishing, 115 Eksportir ‘Kolaps’

SOLO (KRjogja.com) – Kalangan Perguruan Tinggi Muhammadiyah sudah saatnya ikut mengawal laut sebagai masa depan bangsa sekaligus menjadi poros maritim dunia. Harapan ini disampaikan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti dalam Kuliah Tamu 'Fungsi, Manfaat, Problematika Kelautan Indonesia' di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Sabtu (10/09/2016).

"Muhammadiyah harus bisa mengambil peran yang signifikan dan kuat dalam mengamankan  misi menjadikan laut sebagai masa depan dan poros maririm dunia. Peran itu sangat dibutuhkan karena dalam 10 tahun terakhir banyak degradasi yang dialami masyarakat di sekitar pantai akibat ilegal fishing," kata Menteri Susi kepada wartawan.

Mentei Susi menjelaskan akibat ilegal fishing ada sekitar 115 eksportir tutup. Kemudian udang laut menghilang termasuk di pantai Utara Cirebon sehingga sebutan sebagai Kota Udang semakin tidak sesuai. "Bawal putih juga menghilang. Padahal rasanya enak dan harganya bisa 2-3 kali lipat. Begitu juga Kakap Merah Juwana."

Dulu setiap hari, lanjut Susi, Kakap Yuana bisa dipanen 5-10 ton. Semua menghilang karena modifikasi cangkal yang merusak sampai lumpur sehingga telor udang maupun kepiting ikut hilang. "Kalau kita cermati di Pantura ada satu profesi yang hilang. Dulu ada ember bekas cat dan baskom yang kita lihat. Itu adalah rajungan rebus. Sekarang hilang." (Qom)

BERITA REKOMENDASI