Imbas Kerusuhan di Wamena, Papua Pemulangan Warga Perantau Ditanggung Pemerintah

KARANGANYAR, KRJOGJA.com – Pemkab Karanganyar menjamin biaya pemulangan korban kerusuhan Wamena, Papua ke kampung halamannya.  Para korban selain dipulangkan juga didampingi secara psikologis.

Hal itu disampaikan Kabid Pemberdayaan dan Pembinaan Sosial dari Dinas Sosial (Dinsos) Karanganyar, Marno kepada usai menjemput lima warga perantau di Bandara Adi Soemarmo Boyolali. Lima warga tersebut satu keluarga yang terdiri dua wanita dewasa, dua anak-anak dan satu balita. Kepala keluarga bernama Agus Nur Arifin sengaja memulangkan lebih dulu lima anggota keluarganya itu ke rumah orang tuanya di Tawangmangu.

“Ibu mertua, istri dan tiga anaknya dipulangkan dulu. Situasi di Wamena belum kondusif. Rumah dan kios nasi miliknya dibakar. Agus berencana pulang belakangan karena masih menanti kejelasan ganti rugi korban kerusuhan yang dijanjikan pemerintah di Wamena,” kata Marno.

Pesawat komersil yang mereka tumpangi transit beberapa kali hingga akhirnya mendarat di Solo pada Minggu pagi. Marno mengatakan, biaya tiket ditanggung Pemkab Karanganyar. Lebih lanjut dikatakan, masih ada empat warga perantau dalam perjalanan pulang ke Karanganyar via pesawat komersil. Kepada mereka, Pemkab bersedia mengganti biaya pembelian tiket pesawat.

“Melalui Dinas Sosial, Pemkab bertanggungjawab menyelamatkan mereka. Meskipun sebagian sudah ber-KTP Papua. Tapi mereka memiliki famili di Karanganyar yang menjadi tempatnya mengungsi,” katanya.

Selama sepekan terakhir, Pemkab telah memulangkan 16 warga perantau Papua ke sejumlah kecamatan di Karanganyar. Pihaknya meminta para tetangga membantu menenangkan para korban kerusuhan itu.

“Pihak kelurahan dan tokoh masyarakat serta tetangga perlu menghiburnya. Mereka dalam keadaan trauma akibat kerusuhan,” katanya.

Sementara itu Christian Budhi Patmadi Hayu menceritakan kepanikan yang dialaminya saat kerusuhan terjadi. Ia merupakan salah satu warga perantau yang pulang ke kampung halaman di Karanganyar.

“Senin tanggal 23 September saya mengikuti apel pagi di halaman kantor Bupati Jayawijaya. Setelah apel tidak ada tanda-tanda demo dari mahasiswa. Kalau ada demo, kan ada pemberitahuan dulu. Jadi demo itu sifatnya tiba-tiba,” tuturnya.

Christian sedang mengurus arsip di kantor BKD yang tak jauh dari kantor bupati ketika terdengar keributan dari lokasi demonstrasi. Selanjutnya dia melihat asap mengepul di bagian belakang kantor bupati. Mengetahui kericuhan tersebut, Christian yang masih memakai seragam dinas memutuskan berlindung ke Markas TNI. (lim)

 

 

 

 

BERITA REKOMENDASI