Imbas Penjualan Aset Mangkunegaran, Pencalonan Paundra dan Bhre Ditentang

SOLO, KRJOGJA.com – Pusaran konflik menjelang suksesi Pura Mangkunegaran mulai mencuat. Setidaknya ada ketidak puasan sebagian besar kerabat Mangkunegaran yang terhimpun dalam wadah Himpunan Kerabat Mangkunegaran Suryo Sumirat dengan kepemimpinam almarhum Mangkunegoro IX yang dinilai  telah melepas aset-aset Mangkunegaran tanpa ada komunikasi dengan kerabat Mangkunegaran lainnya.

Hal ini berimbas dengan keberatannya sejumlah kerabat Mangkunegaran terhadap pencalonan Mangkunegoro X dari putra kandung mendiang Mangkunegoro IX. Alasannya, ditakutkan sang penerus akan melanjutkan aksi penjualan aset Mangkunegaran tersebut.

“Pasalnya masih ada pelepasan aset yang tidak karuan dananya masuk kemana, sementara tanda tangan almarhum Mangkunegoro IX masih digunakan untuk pelepasan aset. Harusnya secara hukum bila subyek hukum telah wafat atau meninggal dunia maka proses pelepasan aset seharusnya batal demi hukum atau surat pelepasan aset Mangkunegaran yang ditanda tangani orang yang telah wafat tidak berlaku lagi,” papar sejumlah sumber di kalangan HKMN diantaranya KRTH Hartono Wicitrokusumo, Ketua Yayasan Tridarmo Mangkunegaran serta RMT Momi S Satyotomo yang kini menjabat sebagai Ketua I HKMN Soeryosumirat  yang diwawancarai secara terpisah, Selasa (26/10/2021).

Seperti diketahui ada tiga kandidat sebagai penerus tahta Pura Mangkunegaran Mangkunegoro X. Yakni Paundra Jiwa Suryanegara (putra Mangkunegoro IX dengan istri Sukmawati Soekarno) dan GPH Bhre Cakrahutomo (putra Mangkunegoro IX dengan Gusti Kanjeng Putri (GKP) Prisca Marina). Sementara kandidat ketiga adalah Cucu Mangkunegoro VIII, Kanjeng Raden Mas Haryo (KRMH) Roy Rahajasa Yamin.

Sejumlah sumber mengungkapkan pelepasan aset Pura Mangkunegaran yang dokumen pelepasan asetnya ditandatangani oleh Mangkunegoro IX diantaranya adalah penjualan mesin-mesin bekas Pabrik Obat Nyamuk Tawangmangu yang dibangun oleh KGPAA Mangkunegoro  VII.

“Pelepasan aset oleh Mangkunegoro IX itu terkesan tertutup. Bahkan para kerabat Mangkunegaran baru tahu ada pelepasan aset bernilai historis saat sudah terlanjur masuk ke penerima besi bekas. Pabrik obat nyamuk itu merupakan bukti sejarah kalau Mangkunegoro VII peduli untuk memberantas wabah malaria seperti kini ada wabah Covid-19,” papar sumber tadi.

Pelepasan aset lainnya diantaranya  ndalem Kepatihan Partaningratan yang juga tidak terbuka. “Bahkan terlebih parah cagar budaya, yaitu Studio Radio Publik Pertama di Indonesia (SRV) yang pancaran gelombang radionya diterima dengan jelas di Istana Kerajaan Belanda dijual dan jatuh ke tangan swasta,” tambah sumber itu.

BERITA REKOMENDASI