Ini Cara Tolak Bala di Tahun Anjing Bumi

SOLO, KRJOGJA.com – Warga Tionghoa penganut Budha di Klentheng Tien Khok Sie menggelar ritual pao oen atau tolak bala dengan melepas 999 ekor burung serta 999 ikan dalam rangkaian menyambut pergantian tahun dari shio kera api memasuki shio anjing bumi. Ritual tradisi yang dilangsungkan setiap tanggal 4 bulan 1 Imlek berdasar perhitungan penaggalan China, selain sebagai bentuk rasa syukur terhadap Tuhan atas kekayaan alam yang dilimpahkan kepada manusia, juga simbol menyingkirkan semua kesengsaraan agar bisa menyongsong tahun depan lebih baik.

Rangkaian ritual pao oen yang dalam masyarakat Jawa lebih dikenal dengan istilah ruwatan, jelas Hendry Susanto, pengurus Klentheng Tien Khok Sie, menjawab wartawan di sela pelepasan burung, Minggu (4/2/2018), digelar sejak Sabtu (3/2/2018) malam berupa persembahyangan khusus. Siang hari berikutnya, dilanjutkan dengan pelepasan burung di halaman Klentheng Tien Khok Sie, serta pelepasan ikan di perairan Bengawan Solo.

Dalam tradisi masyarakat Tionghoa, tambahnya, setiap kali terjadi pergantian tahun yang disimbolkan pula dengan shio, selalu saja membawa kesengsaraan di satu sisi, dan keberuntungan di sisi lain, sehingga perlu upaya spiritual, diantaranya dalam bentuk ritual pao oen. Bagi warga Tionghoa yang kebetulan terlahir dengan shio yang bhertentangan dengan shio yang tengah bergulir, ritual tolak bala ini menjadi penting, sehingga segala kesialan yang melekat dapat disingkirkan.

Saat pao oen berlangsung, ratusan umat Budha warga Kletheng Tien Khok Sie, mengikuti tahapan ritual dengan khidmat. Pun mereka mencermati burung-burung yang dilepas dari sangkar, sebab hal itu juga menyiratkan simbol-simbol tersendiri. Dalam ritual pelepasan burung kali ini, dari 999 ekor burung yang dilepas, hanya ditemukan satu ekor ditemukan dalam keadaan mati. "Itu artinya, keberuntungan ke depan akan lebih baik seorama dengan pelepasan kesengsaraan di dunia," ujar salah satu warga Kletheng Tien Khok Sie.

Sebelum dilepas ke alam bebas, baik burung maupun ikan didoakan yang dipimpin sejumlah bhiksu, serta percikan air suci. Sejak pukul 07.00, para bikhsu tersebut, melantunkan doa tanpa henti, bersambut dengan suara syahdu lonceng kecil, serta kepulan asap dupa, sedangkan pelepasan burugn dan ikan dilangsungkan empat jam berikutnya. Dijadwalkan, rangkaian peringatan Tahun Baru Imlek yang jatuh pada 16 Februari depan, dipuncaki dengan perayaan malam pergantian tahun yang tahun ini ditandai dengan atraksi barongsai berkolaborasi dengan musik perkusi serta pertunjukan video mapping dengan latar Pasar Gedhe.(Hut)

BERITA REKOMENDASI