Iuran Dinaikkan, Sasar OTA Non Guru

KARANGANYAR, KRJOGJA.com –  Pengurus Lembaga Gerakan Nasional Orang Tua Asuh (GNOTA) Kabupaten Karanganyar memperluas donatur ke kalangan non guru PNS. Diharapkan, keikutsertaan mereka memberi solusi keterbatasan mitra gerakan sosial tersebut.

“Satu guru satu anak asuh ternyata belum bisa mengkaver semua kebutuhan. Kembali lagi ke sifat gerakan sosial yakni keikhlasan. Sebelumnya, OTA (orang tua asuh) memilih sendiri anak asuh yang akan dibantunya. Donatur juga biasanya guru PNS. Namun sekarang, kami mengajak non guru untuk ikut bergabung di GNOTA,” kata Ketua Pengurus LGNOTA Karanganyar, Siti Khomsiyah Juliyatmono kepada KR

usai pelantikan pengurus masa bakti 2018-2023 di rumah dinas bupati, Senin (12/2).

Sosialisasi ke kalangan PNS non guru dilakukan makin intensif. Satu diantaranya mengundang seluruh pimpinan organisasi perangkat daerah (OPD) saat pelantikan pengurus. Dalam forum itu, ia menghadirkan bupati Juliyatmono untuk memotivasi PNS bergabung menjadi OTA. Bupati menyampaikan berbagai kebaikan dijanjikan Tuhan Yang Maha Esa bagi donatur gerakan ini di dunia maupun di akherat.

Lebih lanjut Siti mengatakan jumlah anak asuh di Karanganyar mencapai seribuan pelajar mulai tingkat SD, SMP, SMA hingga perguruan tinggi. Gerakan ini berangkat dari masih banyaknya siswa miskin yang tidak mampu memenuhi kebutuhan non akademis.

“Kalau biaya pendidikan itu sudah dikaver pemerintah. Gratis. Nah, LGNOTA membantu anak asuh membeli seragam, tas dan sepatu yang lebih layak. Agar anak-anak bersemangat sekolah,” katanya.

Pada tahun ini, iuran OTA dinaikkan Rp 50 ribu dibanding tahun lalu. Saat ini, iuran untuk anak asuh usia SD Rp 200 ribu, SMP Rp 300 ribu dan SMA Rp 400 ribu.

Wakil Ketua I LGNOTA Karanganyar, Iskandar mengatakan lembaganya menyalurkan beasiswa pendidikan Rp 1,67 miliar pada 2017. Sedangkan Ketua LGNOTA Provinsi Jawa Tengah, Zaimatun Ali Mufiz mengatakan tujuan dari GNOTA adalah untuk meningkatkan kepedulian dan peran serta masyarakat sebagai OTA dalam membantu kelangsungan pendidikan anak usia sekolah dari keluarga tidak mampu.

“Agar dapat mengikuti pendidikan dasar secara berkesinambungan sampai tamat,” katanya. (Lim)

 

BERITA REKOMENDASI