Jadi Incaran, Rombongan Penebas Berburu Duku Matesih

KARANGANYAR, KRJOGJA.com – Para penebas buah berbondong-bondong memanen duku di Desa/Kecamatan Matesih. Di lokasi panen, buah berbentuk bulat berasa manis itu disortir secara manual sebelum dijual ke tengkulak.  

“Setiap hari memang berkeliling ke Matesih dan Karangpandan untuj memanen buah. Kali ini duku, karena sudah musimnya. Pemilik pohon sudah memberitahu jauh hari sebelum tiba musim panen,” kata penebas buah asal Dusun Sabrang Wetan, Matesih, Sardi kepada KRJOGJA.com, Sabtu (16/12/2017).  

Pria yang sudah puluhan tahun bergelut di bidang itu mengaku butuh proses tidak sederhana memanen buah duku. Setelah pemilik pohon memberitahu buah di pohonnya segera matang, ia menyurvei dulu kondisinya. Biasanya, ia menyetujui tebasan di pohon berusia lebih dari 50 tahun karena pasti buahnya banyak dan tahan hama.

Kemudian, duku-duku itu dibungkus atau diberongsong untuk menghindari serangan lalat, luwak dan angin yang merusak, pada sebulan jelang panen. Saat itu harga sudah disepakati. Pemilik pohon hanya bertanggungjawab pemupukan dan suplai air. Sedangkan biaya pembungkusan ditanggung Sardi, yang dihitung dari banyak-sedikitnya buah. Per kuintal memerlukan dana sekurangnya Rp 500 ribu.

“Dari mulai bunga sampai panen, pemilik pohon paling keluar modal Rp 1 juta,” katanya.

Umumnya buah yang berada dalam satu tandan akan matang hampir bersamaan, tetapi jika pematangan tidak bersamaan, akan menyulitkan pemanenan. Buah duku juga harus dipanen dalam kondisi kering, sebab buah yang basah akan berjamur jika dikemas. Penanganan pasca panen duku harus hati-hati karena buah ini sangat mudah rusak. Kulit buahnya berubah menjadi coklat dalam 4 atau 5 hari setelah dipanen.

“Satu pohon besar butuh 15 orang pekerja untuk memanen. Yakni, lima orang memanjat dan memetiknya. Lima orang menadahi dengan karung. Kemudian, lima lagi di bawah bertugas menyortir. Kira-kira lima jam selesai satu pohon,” katanya.

Salah satu pedagang besar asal Dusun Kismomulyo, Desa Plosorejo, Kecamatan Matesih, Tono, mengatakan ia membeli duku berbagai kualitas sortiran dari penebas. Tak hanya menjualnya eceran ke konsumen, damun juga ke pedagang di pasar wilayah Karanganyar dan sekitarnya.

“Harga eceran di tingkat pedagang kecil mulai dari Rp 25 ribu per kilogram. Tanggungannya cuman buah ini mudah berubah warna kusam karena tidak tahan lama di luar. Selera konsumen beragam. Ada yang minat manis, ada pula yang agak masam,” katanya. (Lim)

 

BERITA REKOMENDASI