Jadi Pekerjaan Rumah, BPBD Aceh Curhat EWS Bermasalah

KARANGANYAR, KRJOGJA.com – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di Kabupaten Aceh Besar dan Karanganyar, Jawa Tengah memiliki problem serupa pemeliharaan early warning system (EWS). Instansi tersebut tak bisa memperbaiki secara mandiri perangkat bersumber pengadaan nonpemerintah itu.

“Di Aceh Besar, jenis longsornya bebatuan. EWS yang ditanam di sana entah mengapa sering berbunyi sendiri. Apakah karena aktivitas penggembalaan ternak atau yang lain?” kata Kepala Pelaksana Harian BPBD Aceh Besar, Ridwan Jamil di forum kunjungan kerja di rumah dinas bupati Karanganyar, Rabu (27/7/2017).

Tak jarang, bunyi sinyal EWS pertanda bahaya membuat penduduk berlarian menyelamatkan diri. Saking seringnya kesalahan teknis pada EWS, warga sampai melampiaskan kekesalannya dengan melempari batu alat EWS itu.

“Di sini, kita ingin melihat bagaimana pemasangan ideal EWS. Apakah alatnya sama ataukah tidak. Yang ada di Aceh, alat itu bantuan UGM,” katanya.

Menanggapi hal itu, Kepala Pelaksana Harian BPBD Karanganyar, Bambang Djatmiko mengatakan problem serupa dialaminya. Bahkan, separuh EWS yang ditanam di lokasi rawan longsor sudah tidak berfungsi. Selain sinyal gerakan tanah tak berbunyi, terdapat alat terlalu sensitif.

“15 unit EWS terpasang, tapi sebagian rusak. Menyulitkan juga. Barang itu bukan milik kita, tapi wajib merawat. Harus sering-sering koordinasi ke pemasangnya dulu dari UGM,” katanya.

Meski demikian, BPBD Karanganyar tidak hanya mengandalkan informasi peringatan dini bencana alam dari EWS. Sebanyak 1.500 personel sukarelawan yang tersebar di 17 kecamatan aktif membantu pemerintah dan masyarakat melakukan mitigasi bencana. Termasuk saling mengingatkan kewaspadaan saat cuaca kurang bersahabat.

“Kami juga mengandalkan jejaring relawan di 177 desa/kelurahan. Menginformasikan ke kecamatan atau langsung ke BPBD lewat WA,” katanya.

Bambang melaporkan terjadi 256 peristiwa tanah longsor pada 2016 dan enam lokasi gerakan tanah. Sedangkan sampai Juni 2017 terdeteksi 101 gerakan tanah di Jenawi dan Gondangrejo. Ia menyambut baik peran aktif masyarakat dan institusi pendidikan yang ikut membantu mitigasi kebencanaan.

“Sudah sebulan ini mahasiswa KKN UGM di Ngargoyoso. Mereka ikut mencari solusi pemasangan ideal EWS di titik rawan longsor,” kata Bambang. (R-10)

BERITA REKOMENDASI