Jati Kampung Jajar Legowo

Editor: Ivan Aditya

KARANGANYAR (KRjogja.com) – Konsistensi penggunaan metode tanam padi jajar legowo (jarwo) oleh petani organik di Desa Jati, Jaten, Karanganyar diapresiasi positif pemerintah. Berkat keseriusannya meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi, Desa Jati ditetapkan menjadi Kampung Jarwo.

Pencanangan Kampung Jarwo Desa Jati, Jaten bukan sekadar program dadakan. Selama tiga tahun terakhir metode tanam tersebut dikenalkan ke petani di Indonesia, budidaya di 10 hektare sawah di Karanganyar, khususnya di Desa jati termasuk paling berhasil dibanding area percontohan di wilayah lainnya. Ini dilihat dari kontinuitas pemakaian metode, inovasi petani dan sokongan pemerintah daerah.

“Desa Jati, Jaten selama tiga tahun ini ajek menerapkan jarwo. Sebenarnya standar pendampingan dinas pertanian dan penyuluh pertanian sama untuk semua kelompok tani. Hanya saja Poktan di Jati lebih serius mengikutinya,” kata Kabid Penyelenggara dan Kerjasama BP4K Karanganyar, Dhanik Sih Handayani kepada KRjogja.com, Senin (07/11/2016).

Pada prinsipnya, jajar legowo memanipulasi curahan sinar matahari agar terserap maksimal ke tanaman padi di lahan terbatas dengan mengatur jarak barisan. Pengguna sistem jarwo lebih mudah merawat tanaman, baik dalam pemupukan maupun penyemprotan pestisida.

Dengan sistem ini, produksi gabah bisa meningkat 1 ton per hektare dari hasil secara konvensional. Meski demikian, dibutuhkan benih dengan jumlah lebih banyak serta masa tanam lebih panjang.

Lebih lanjut Dhanik mengatakan, mekanisasi pertanian di Desa Jati bakal lebih disempurnakan seiring pencanangannya. “BPTP (Balai Pengkajian Teknologi Pertanian) Jawa Tengah dan Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BBP Padi)akan terjun langsung mendampingi dengan kontribusinya berupa benih unggulan. Bantuan mesin transplanter juga tersalurkan,” katanya. (R-10)

BERITA REKOMENDASI