Jelang Idul Qurban, Harga Sapi Anjlok dan Kesulitan Menjual Sapi

Editor: Agus Sigit

BOYOLALI, KRJOGJA.com – Ratusan ternak sapi di kaki gunung Merbau tepatnya di Desa Sidomulyo, Kecamatan Ampel, Boyolali terserang penyakit mulut dan kuku(PMK). Pihak pemerintah desa setempat meminta terhadap dinas terkait untuk memberikan solusi terhadap para peternak hewan sapi dan kambing.

Salah seorang peternak di desa Sidomulyo, Sidik Pramono (40) mengaku, selama ternak sapi miliknya terserang penyakit mulut dan kuku, sudah mengahabiskan satu ekor sapi untuk biaya pengobatan.

“Saya memiliki 13 sapi, semua kena PMK. Kalau sekarang ini masa penyembuhan. Satu sapi suntikanya ada yang dua kali sampai 4 kali. Padahal satu suntikan Rp 100 ribu,” kata dia kepada wartawan saat ditemui di Dukuh Daleman Rt 002 Rw 001, Desa Sidomulyo,Senin (20/6/2022).

Menurutnya, selama adanya PMK, menjelang perayaan Idul Kurban pada tahun ini masih kesulitan untuk menjual sapi. Dikataknya, selain harga sapi anjlok, untuk menjual sapi masih kesulitan, lantaran pasar hewan ditutup.

“Kalau harga jelas anjlok, dan pasar hewan kan ditutup selama PMK ini. Kalau pada hari biasanya perekor bisa menjual seharga RP 20 juta, namun kalau kondisi seperti ini paling ya Rp 17 juta,”ujar dia.

Sidik berharap, dengan adanya PMK pada hewan ternak sapi tersebut dinas terkait untuk turun ke peternak khususnya di desa Sidomulyo untuk diberikan penyuluhan maupun vaksin pada hewan sapi.

“Kalau selama ini, untuk mempertahankan agar sapi tetap sehat. Setiap hari saya kasih telur, madu, kunir, kunyit. Itu juga harus di suntik juga, kalau ga seperti itu ya bisa habis ternak saya. Satu ekor sapi yang mati, lainnya tahap penyembuhan,”kata dia.

Sementara itu, menurut Kepala Desa Sidomulyo, Muh Sawali, selama ini para peternak belum pernah mendapat bimbingan maupun penyuluhan dari dinas terkait selama adanya virus PMK menyerang pada hewan ternak khususnya sapi serta kambing.

“Di desa kami ini mayoritas petani dan peternak hewan sapi. Persatu orang mereka ada yang memiliki 5 ekor sampai sampai 13 ekor sapi, bahkan ada yang lebih. Itu belum hewan kambinganya,”kata Muh Sawali.

Dikatakanya, pihak pemerintah desa tidak menguasai terkait penyakit mulut dan kuku yang menyerang pada hewan sapi tersebut. Pihak pemdes hanya bisa memotivasi para peternak sapi agar mereka tidak putus asa.

“Yang tahu sebenarnya ilmu peternakan atau dinas terakit. Kalau saya apalagi pihak pemdes. Soal PMK nggak tahu, bisanya hanya memberi motivasi saja agar mereka tidak putus asa dan terus berternak,”jelas dia.

Ia berharap, segera mungkin pihak dinas terkait untuk datang ke Sidomulyo untuk memberikan penyuluhan, serta bimbingan agar para peternak mampu bertahan mengelola ternak sapi mereka.

“Mereka para peternak itu butuh penyuluhan dan bimbingan. Ya, sejauh ini belum ada yang kesini. PMK pada sapi disini cukup banyak sekali, kasihan mereka para peternak,”pungkasnya. (R-3)

 

BERITA REKOMENDASI