Jenuh Pupuk Kimia, Lahan Sawah di Pulau Jawa Kritis

Editor: KRjogja/Gus

KARANGANYAR, KRJOGJA.com – Pemulihan lahan pertanian mendesak dilakukan. Hasil riset menunjukkan 73 persen lahan pertanian di Pulau Jawa memiliki kandungan organik maksimal 2 persen saja. Hal itu memicu lahan kritis yang tidak subur akibat paparan pupuk kimia.

Demikian disampaikan Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Tengah, Joko Pramono kepada wartawan usai menghadiri panen perdana padi organik di Desa/Kecamatan jaten, Senin (3/7).

“Pengembangan pertanian ramah lingkungan terus kita dorong. Sebab, pola pertanian saat ini justru merugikan tanah. Sekitar 73 persen sawah di Pulau Jawa, kandungan organiknya sangat rendah. Maksimal 2 persen. Itu akibat pemupukan secara kimia yang menyebabkan tanahnya jenuh,” katanya.

Dalam upaya mengembalikan kesuburan tanah, pihaknya mendorong petani mengubah metode budidaya tanaman ke organik. Artinya, memakai pupuk kandang, pupuk kompos dan pupuk hijau mulai pengolahan tanah, tanam, pencegahan organisasi pengganggu tanaman sampai pasca panen. Perlakuan demikian diharapkan menaikkan kandungan organik lahan pertanian sampai di level aman, yakini 5 persen.

Ia berjanji mendukung pertanian organik dengan menyuplai hasil teknologi dalam bentuk bibit unggul. Hanya saja petani perlu ekstra bersabar dalam mengeluarkan energi maupun biaya. Seharusnya, hal itu didukung pemerintah pusat, provinsi hingga kabupaten/kota. Persoalan lain pada minimnya minat bertani kaum milenial.

“Petani di lahan non organik ingin cara instan. Memakai obat-obatan kimia memang secara kasat mata langsung terlihat. Sedangkan reaksi dari pupuk organik lambat. Tapi hasilnya ke depan lebih baik. Yakni menjaga kesuburan tanah,” katanya.

BERITA REKOMENDASI