Kaget Tagihan Listrik Rp 89,7 Juta Ternyata Korban Ditipu Oknum BTL

KARANGANYAR, KRJOGJA.com ->'Praktik penipuan bermodus menaikkan daya listrik dialami manajemen koperasi simpan pinjam dan pembiayaan syariah (KSPPS) BMT BIM Gondangrejo.

Manajemen harus menanggung kerugian hingga puluhan juta rupiah akibat ulah curang seorang oknum petugas biro teknik listrik (BTL).

Dalam gelar barang bukti di Mapolres Karanganyar, Kamis (18/7) Kasatreskrim AKP Dwi Haryadi mengatakan praktik penipuan itu terbongkar saat petugas PLN mengecek meteran listrik kantor KSPPS BMT BIM. Awalnya, kantor PLN mencurigai penggunaan daya kantor tersebut tidak wajar.

“Ternyata setrumnya di-los-kan. Di PLN tercatat dayanya 11.000 KWH. Faktanya memakai 23.000 KWH. Akhirnya diberi sanksi harus membayar seluruh penggunaan yang tidak tercatat. Totalnya Rp 89.760.211. Itu tagihan selama setahun penggunaan yang seharusnya dibayar,” katanya.

BMT BIM Gondangrejo, dalam hal ini diwakili Manager Marketing Danang Agung Juniyanto, terkejut tagihannya teramat mahal. Apalagi, sambungan listrik ternyata ilegal. Dari situlah praktik sambungan listrik ilegal terkuak.

Diceritakan, perusahaan itu menaikkan daya listrik dari semula 11.000 KWH menjadi 23.000 KWH dengan meminta bantuan Triyono, seorang petugas BTL asal Gondangrejo. Triyono memasang harga instalasi Rp 10 juta dan jasa Rp 20 juta. Setelah menerima pembayaran, Triyono tidak menyetorkannya ke kantor PLN. Instalasinya juga dimanipulasi.

“Listriknya memang sudah naik menjadi 23.000 KWH. Korban juga tidak curiga. Tapi, itu tidak tercatat di PLN. Tersangka mencuranginya,” katanya.

Usai menyadari dicurangi, manajemen BMT BIM sempat bernegosiasi dengan tersangka agar uangnya dikembalikan. Terlebih, perusahaan itu dikejar-kejar pelunasan tagihan listrik yang tidak sedikit. Lantaran tidak menemui titik terang, tersangka dilaporkan ke polisi pada 21 Juni lalu.

“Dikenai pasal 372 KUHP dan atau pasal 378 KUHP dengan ancaman hukuman penjara 4 tahun,” katanya.

Sementara itu, tersangka mengaku sekali menipu bermodus menaikkan daya listrik. Ia tergiur menguasai uang puluhan juta itu.

“Uang keburu terpakai saat masa tunggu jaringan listrik masuk ke rumah. Yang Rp 10 juta buat beli perangkat instalasi. Sisanya yang Rp 20 juta, sebagian dibelikan ponsel seharga Rp 1,5 juta dan lainnya untuk keperluan pribadi,” ujarnya. (Lim)

 

 

BERITA REKOMENDASI