Kasus Siswi SMP Favorit Melahirkan, Pukulan Telak Dunia Pendidikan Karanganyar

Editor: Ivan Aditya

KARANGANYAR, KRJOGJA.com – Dinas Pendidikan Kabupaten Karanganyar menyebut kasus siswi SMP melahirkan merupakan pukulan telak bagi dunia pendidikan. Kasus itu menjadi bukti lemahnya pengawasan keluarga dan sekolah terhadap peserta didik di masa pandemi Covid-19.

“Peran orang tua sangat penting saat pembelajaran melalui daring ini. Pihak sekolah sendiri tidak dapat mengawasi secara langsung. Terus terang ini menjadi pukulan berat bagi kita semua. Terutama dunia pendidikan di Karanganyar,” kata Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Karanganyar, Tarsa kepada KRJOGJA.com, Sabtu (28/08/2021).

Sebagaimana diberitakan, siswi sebuah SMP negeri favorit di Karanganyar, AI melahirkan bayi perempuan. Persalinannya secara normal berlangsung di RSUD Karanganyar.

AI menjalin asmara dengan seorang pelajar lulusan SMP yang tinggal di Jumantono. Terkait penanganan terhadap kasus ini, Tarsa mengungkapkan masih ditangani oleh pihak sekolah. “Apakah nanti akan dikeluarkan atau tidak, saat ini masih ditangani sekolah,” ujarnya.

Sementara itu Pengadilan Agama (PA) Kabupaten Karanganyar mencatat tingginya kasus perkawinan anak selama masa pandemi Covid-19. Kebanyakan pernikahan itu terjadi karena mempelai wanita hamil duluan.

Panitera Pengadilan Agama Karanganyar Sukiyanto mengatakan setiap hari masuk permohonan dispensasi menikah. Rata-rata calon mempelai pria dan wanita berusia di bawah 19 tahun, sehingga membutuhkan putusan pengadilan agama agar diizinkan berumah tangga secara sah.

Berdasarkan UU Perkawinan No 16/2019, usia sah menikah untuk pria dan wanita adalah 19 tahun. UU tersebut merevisi UU No 1 tahun 1974, dimana batas minimal usia pernikahan adalah 16 tahun untuk perempuan dan 19 tahun untuk laki-laki.

“Yang mengajukan dispensasi menikah banyak. Tiap hari ada pengajuan. Bahkan calon mempelai ada yang berusia 15 dan 16 tahun. Ini masih sangat muda. Alasannya klasik. Sudah hamil duluan,” katanya.

PA Karanganyar mencatat dispensasi nikah diberikannya untuk 25 kasus pada Januari, 21 kasus pada Februari, 28 kasus pada Maret, 14 kasus pada April, 19 kasus pada Mei, 42 kasus pada Juni, 7 kasus pada Juli dan 25 kasus pada Agustus hingga tanggal 25. Total dari awal tahun sampai sekarang sebanyak 181 dispensasi menikah.

“Dengan jumlah penduduk 900 ribu jiwa di Karanganyar. Angka dispensasi menikah sampai segitu termasuk tinggi,” katanya.

Ia menyebut kasus pernikahan dini banyak dilatarbelakangi salah pergaulan sehingga menyebabkan remaja perempuan hamil. (Lim)

BERITA REKOMENDASI