Kekeringan, 1.032 Hektare Sawah Terancam Gagal Panen

KARANGANYAR, KRJOGJA.com -Minimnya suplai air di musim kemarau mengancam keberlanjutan tanam padi di 1.032 hektare sawah. Luasan itu berdasarkan pendataan Dinas Pertanian dan Pangan mulai Juni-Agustus 2019.

“Dari jumlah itu, yang sudah puso 603 hektare. Sedangkan dampak kekeringannya bervariasi. Tingkat berat seluas 310 hektare yang sulit diselamatkan. Sedang seluas 24 hektare dan ringan seluas 95 hektare,” kata Koordinator Pengendali Organisme Pengganggu Tanaman (POPT) Dispertan Karanganyar Suyatno, Senin (5/8).

Untuk sawah yang mengalami puso, tersebar di enam kecamatan. Yaitu Jumapolo 156 hektare, Mojogedang 20 hektare, Gondangrejo 398 hektare, Kebakkramat 17 hektare, Jatipuro 8 hektare dan Tasikmadu 4 hektare. Sedangkan yang mengalami kekeringan berat berada di Jumapolo 32 hektare, Mojogedang 89 hektare, Kebakkramat 39 hektare dan Gondangrejo 150 hektare. 
Kabid Produksi Tanaman Pangan dan Hortikultura Riyanto Sujudi mengatakan, luasan sawah yang kekeringan hanya 5 persen dari total luas sawah se-Karanganyar yang mencapai 22 ribu hektare, Meski demikian, kondisi tersebut tetap berdampak pada produksi padi. 
“Kalau sampai gagal panen, kuantitas produksi menurun,” ucapnya.

Dikatakannya, upaya mencegah dampak kekeringan terhadap produksi tanaman pangan, sudah kerap dilakukan. Salah satunya, petani diajak untuk beralih menanam palawija di musim kemarau, karena tidak membutuhkan banyak air. 
Hanya saja, tidak banyak petani yang bersedia. Mereka tetap nekat menanam padi, dengan segala risikonya, karena dinilai lebih menguntungkan dibandingkan menanam komoditas lain. Selain ancaman gagal panen akibat kemarau, serangan tikus menghantui para petani. Di musim tanam ini, 51 hektare sawah dirusak tikus.

“Paling parah di Karangpandan dengan luas serangan 18 hektare,” jelasnya. (Lim)

 

 

 

 

 

BERITA REKOMENDASI