Kekurangan Air, Petani Tunda Tanam Padi

Editor: KRjogja/Gus

SUKOHARJO (KRjogja.com) – Rencana petani untuk melakukan tanam padi tertunda karena kebutuhan air belum terpenuhi. Sebab hujan yang seharusnya datang dalam beberapa hari tidak kunjung turun. Akibatnya kondisi sawah menjadi kering dan debit air di saluran berkurang drastis.

Petani Desa Kadilangu, Kecamatan Baki Pratondo, Selasa (24/10) mengatakan, terpaksa menunda tanam padi. Padahal rencana sudah matang dilakukan. Pada periode Oktober ini seharusnya sudah melakukan olah tanah dan sebar bibit. Namun kenyataanya sampai pertengahan bulan sama sekali belum dilakukan.

Penundaan terpaksa dilakukan karena kebutuhan air belum terpenuhi. Petani mengandalkan sepenuhnya air dari hujan karena tidak ada saluran irigasi. “Saya tidak tahu sampai kapan menunggu. Sementara menunda dulu tanam padi karena tidak ada air. Seharusnya sekarang curah hujan tinggi tapi ternyata lebih dari dua minggu hujan tidak turun,” ujar Pratondo.

Pilihan menunda menanam padi tepat karena apabila dipaksakan akan memberikan resiko besar pada petani. “Ada petani yang sudah terlanjur olah tanah dan sebar bibit tapi cuaca sangat panas tidak ada air dan akhirnya juga gagal,” lanjutnya.

Untuk mendapatkan air dari sumur pantek petani cukup berat karena harus mengeluarkan biaya tambahan. Sebab butuh sewa mesin diesel, bahan bakar dan pompa penyedot air.
“Cuaca tahun ini sangat berbeda dibanding tahun lalu. Sebab sekarang jarang hujan dan tahun lalu pada saat yang sama seperti sekarang stok air melimpah karena hujan turun setiap hari,” lanjutnya.

Petani Desa Ngasinan, Kecamatan Bulu Sugeng mengatakan, memilih mengistirahatkan sawah atau menunda tanam padi karena memang kekurangan air. Kendalanya karena hujan tidak turun dalam beberapa hari. Selain itu saluran yang diandalkan mengalami penurunan debit mengingat ada penutupan pintu air Dam Colo Nguter.

“Mau bagaimanan lagi, debit air di saluran berkurang drastis dan hujan tidak turun. Kalau memaksakan tanam padi jelas beresiko gagal,” ujar Sugeng.

Sugeng mengatakan, banyak petani tidak mau ambil resiko dengan memaksakan diri menanam padi. Petani memilih menunggu hujan turun atau pintu air Dam Colo kembali dibuka agar bisa mendapatkan air. (Mam)

 

BERITA REKOMENDASI