Keracunan Massal Berulang, DKK Sukoharjo Gencarkan PHBS Pada Masyarakat

Editor: KRjogja/Gus

SUKOHARJO, KRJOGJA.com – Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Sukoharjo berencana melakukan sosialisasi ke masyarakat dengan sasaran konsumsi makanan sehat sekaligus mengkampanyekan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Kegiatan dilakukan setelah muncul dua kasus keracunan massal diduga akibat makanan yang dikonsumsi saat ada hajatan warga. Kondisi korban semuanya sudah pulih dan petugas menunggu hasil pemeriksaan laboratorium mengenai penyebab pasti keracunan.

Kepala DKK Sukoharjo Yunia Wahdiyati, Senin (2/9) mengatakan, dua kasus keracunan massal membuat DKK Sukoharjo prihatin. Sebab korban dalam kejadian ini sangat banyak mulai dari anak anak hingga orang dewasa. Semua korban sudah mendapatkan penanganan dari Puskesmas hingga pulih seperti semua. Para korban hanya mendapatkan rawat jalan saja dan tidak ada yang sampai menjalani rawat inap.

Keracunan massal terjadi dalam rentang waktu satu bulan pada Agustus kemarin di dua lokasi berbeda. Kejadian pertama menimpa sebanyak 60 warga Desa Tambakboyo RT 1 RW 1 Kecamatan Tawangsari diduga mengalami keracunan massal usai makan bersama nasi opor ayam saat acara malam tirakatan HUT Ke-74 RI, Jumat (16/8). Sedangkan kedua sebanyak 38 warga Dukuh Tegalgiri RT 3 RW 6 Desa Krajan, Kecamatan Weru menjadi korban keracunan massal usai menyantap nasi dari salah satu warga yang menggelar hajatan akikah Sabtu (31/8).

DKK Sukoharjo sudah melakukan penanganan semua terhadap semua korban keracunan. Namun mengenai penyebab pasti keracunan petugas masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan. Diharapkan hasilnya bisa segera diketahui dan disampaikan ke masyarakat khususnya para korban.

"Dua kasus keracunan massal terjadi dalam rentang waktu tidak lama pada Agustus kemarin membuat kami prihatin. Meski demikian semua korban sudah mendapatkan penanganan di Puskesmas," ujarnya.

Penyebab keracunan massal sementara diduga terjadi melalui media perantara berupa makanan yang dikonsumsi warga atau para korban. Sebab secara bersamaan warga merasakan gejala sama seperti kapala pusing, perut mulas dan diare usai menyantap makanan yang disuguhkan dalam acara.

"Perlu kembali bagi kami DKK Sukoharjo melakukan sosialisasi kepada masyarakat. Sebab sebelumnya petugas sudah memberikan sosialisasi ke lembaga resmi atau katering makanan. Kedepan sosialisasi akan lebih luas lagi menjangkau ke warga hingga kelompok masyarakat," lanjutnya.

Materi sosialisasi tersebut berkaitan dengan kondisi kebersihan makanan sehingga aman dikonsumsi. Untuk memastikannya maka perlu dilakukan pengecekan makanan berulang kali hingga sebelum dikonsumsi.

"Cek makanan itu penting sebelum dikonsumsi. Apakah aman atau tidak bisa diketahui saat pengecekan tersebut. Caranya sekilas cukup dilihat dan dicium aroma atau bau makanan," lanjutnya.

Dalam dua kasus keracunan makanan di Tambakboyo, Tawangsari dan Krajan, Weru tersebut makanan yang disajikan dimasakah oleh warga secara bersama. Cara tersebut sudah biasa dilakukan karena menjadi adat kebiasaan masyarakat bergotong royong apabila ada warga punya hajatan.

"Dugaan keracunan massal dalam kasus kemarin bisa karena orangnya yang memasak, bahan makanan, proses memasak, lingkungan dan alat yang digunakan," lanjutnya.

Untuk mencegah terjadinya keracunan massal serupa terulang lagi maka DKK Sukoharjo meminta pada masyarakat untuk terus menerapkan PHBS. Salah satunya yakni dengan mencuci tangan menggunakan sabun. Dengan cara ini bisa meminimalisir penyebaran kuman penyakit yang menyebabkan keracunan.

"Cuci tangan pakai sabun memang sepele tapi sangat penting untuk menjaga kesehatan dan sering kali diabaikan masyarakat. DKK Sukoharjo dalam program ini sudah menyasar hingga ke sekolah dengan mengajarkan ke para siswa," lanjutnya. (Mam)

 

BERITA REKOMENDASI