Klasterisasi Menguntungkan Petani Bunga Krisan

PENERAPAN sistem kelompok bagi petani bunga krisan serta klasterisasi lahan penanaman memudahkan mereka dalam membudidaya. Selain itu, klasterisasi menarik minat wisatawan mengunjunginya. 

Di Tawangmangu, klasterisasi tanaman diterapkan petani bunga krisan di Lingkungan Nglurah. Mereka yang tergabung di tiga kelompok wanita tani merasakan pendapatannya lumayan setelah membudidaya jenis tanaman bunga itu.

"Tiga kelompok wanita tani itu adalah Taman Sari, Mulia Sejahtera dan Cempaka Arum. Kita didampingi permodalan oleh PT PNM (Permodalan Nasional Madani) Solo. Sebagai nasabah aktif baru Cempaka Arum. Sedangkan Taman Sari dan Mulia Sejahtera baru penjajakan," kata Petani tanaman hias sekaligus Ketua RW X Lingkungan Nglurah Kelurahan Tawangmangu, Wagimin.

Peminat bunga krisan dalam pot sangat tinggi. Para wisatawan Tawangmangu selalu mampir ke Nglurah untuk membeli oleh-oleh tanaman. Menurutnya, jenis bunga krisan paling diminati.
"Jika membudidaya bunga krisan, dijamin pasti laku 200 persen," katanya. 

Klaster tersebut selain melokalisasi petani bunga krisan, juga memusatkan pelatihan dan budidaya di lahan pembibitan ukuran 5X8 meter persegi. Selanjutnya, bibitnya akan diambil pemodal pihak ketiga. Saat ini permintaanya hampir 5 ribu bunga setiap pekan dengan harga per pot Rp 30 ribu-Rp 35 ribu. Keuntungan per petani perbulan mencapai Rp 5 juta. Hingga saat ini di Nglurah ada sekitar 80 jenis tanam hias yang dibudidaya menyesuaikan kualitas tanah dan suhu. 

"Krisan biasanya ditanam di ketinggian antara 700-1.200 mdpl," katanya. 

Di lahan pembibitan, sekitar 100-an warga Nglurah mengikuti pelatihan pada Program Pengembangan Kapasitas Usaha Klasterisasi Tanaman Hias di Lingkungan Nglurah. Pelatihan selama lima kali pertemuan itu digelar PT PNM Surakarta yang merupakan nasabahnya.  

Pimpinan Cabang Solo PT PNM mengatakan edukasi pengembangan bunga krisan ke kelompok wanita tani di Nglurah disesuaikan kebutuhan. 

"Kami menggandeng fasilitator daei Pertanian UNS. Dari Ulaam sudah Rp 6 miliar yang disalurkan. Sedangkan Mekar berplafon Rp 2 juta. Banyaknya nasabah di Nglurah mendasari kami memberikan apresiasi melalui pelatihan dan permodalan," katanya. (Abdul Alim)
 

BERITA REKOMENDASI