Kota Solo Ulang Tahun, 27.300 Takir Jenang Ludes Diserbu Warga

Editor: KRjogja/Gus

SOLO (KRjogja.com) – Sedikitnya 27.300 takir 17 jenis jenang dibagi-bagikan secara gratis pada event Semarak Jenang Solo, dalam rangkaian peringatan Hari Jadi ke-273 Kota Solo, di kawasan Beteng Vasternburg, Sabtu (17/2) siang. Sebelum dibagikan, 17 jenis jenang diarak dari Balaikota menuju Beteng Vasternburg, diikuti Walikota FX Hadi Rudyatmo, Wakil Walikota Achmad Purnomo, serta sejumlah pejabat dan tokoh masyarakat.

 

Sejauh pemantauan KR di lapangan, Sabtu (17/2) menyebutkan, sejak pagi, ribuan warga sudah berkerumun di kawasan Beteng Vasternburg, sebagian mulai merapat ke stand-stand pembagian jenang yang terdistribusikan di 273 titik. Pengunjung seperti tak sabar menyantap jenang gratis, hingga sebagian besar petugas stand mendahului membagikan jenang, sebelum upacara resmi 'makan jenang bareng' yang dikomando Walikota FX Hadi Rudyatmo.

Prinsipnya, seluruh jenang terdistribusikan secara tertib, ungkap Walikota FX Hadi Rudyatmo, dan tak ada lagi jenang terbuang lalu terinjak-injak akibat saling berrebut, sebagai mana pernah terjadi pada tahun sebelumnya. Dalam khasanah budaya Jawa, jenang tak saja sebagai jenis makanan, tetapi juga memiliki folosofis dalam kaitan siklus perjalanan hidup manusia. Karenanya tidak elok jika jenang itu terbuang dan terinjak-injak, terlebih di daerah sana masih ada sebagian masyarakat kesulitan bahan pangan.

Tujuh belas jenis jenang, diantaranya jenang procotan, jenang abang putih, saloka, sunsum, grendul, katul, puputan, jenang lemu, dan sebagainya, menurut pria yang akrab disapa Rudy, sebagian menjadi pelengkap ritus tradisi masyarakat Jawa sejak zaman dulu. Dalam perspektif sekarang, jenang memiliki potensi besar menjadi komoditas ekonomi. Kalau saja masyarakat mengembangkkannya, akan semakin memperkaya khasanah kuliner khas Solo, sekaligus meningkatkan kesejahteraan warga.

Di sisi lain, Ketua Panitia Semarak Jenang Solo, Subagyo, mengungkapkan, jenang sebagai komoditas ekonomi, dalam beberapa tahun terakhir mulai mengemuka. Jika dulu penjual jenang relatif terbatas pada titik-titik tertentu, sekarang mulai bertumbuhan di berbagai lokasi. "Sebagian menawarkan jenis jenang tradisional, sebagian lagi memberikan sentuhan kreativitas olahan, bahkan menamakannya sebagai jenis jenang baru," yelas Subagyo yang juga Kepala Dinas Perdagangan.

Dia ebrharap, agenda tahunan Semarak Jenang Solo lebih memicu pertumbuhan jenang sebagai komodiatas ekonomi, sekaligus sebagai bentuk pelestarian khasanah budaya kuliner. Tak menutup kemungkinan, suatu saat nanti jenang menjadi kuliner khas Solo, seperti halnya jenis masakan lain, seperti thengkleng, nasi liwet, serabi, sate kere, dan lain-lain. (Hut)

 

 

BERITA REKOMENDASI