Kraton Solo Gelar Pengetan Surut Dalem Sultan Agung Prabu Hanyokrokusumo

Editor: Ivan Aditya

SOLO, KRJOGJA.com – Ratusan sentana dan abdi dalem Kraton Kasunanan Surakarta menggelar dzikir dan tahlil untuk memperingati Pengetan Surut Dalem Kanjeng Sultan Agung Prabu Hanyokrokusumo Paugeran Negari Ing Mataram di masjid Agung Surakarta, Jumat (08/08/2019).

Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) Dra GKR Koes Moertiyah Wandansari sempat menyesalkan Kraton Kasunanan Surakarta sebagai penerus dinasti Mataram agak abai, tidak menggelar khol atau peringatan meninggalnya seorang tokoh yang besar jasanya seperti Sultan Agung Prabu Hanyokrokusumo atau pendiri kerajaan Mataram Panembahan Senopati.

Suasana hening di serambi masjid Agung Surakarta dipecahkan oleh santiswara Kraton Surakarta. Sya’ir lagu santiswara terdiri dari puji-pujian, shalawatan, tahlil, tahmid, takbir yang dikemas dalam bentuk gendhing Jawa. Musiknya berupa kemanak, kendhang, terbang dan jedor.

Di serambi masjid, duduk bersila GKR Wandansari, ketua LDA juga Pengageng Sasono Wilopo Kraton Kasunananan Surakarta, disebelahnya GPH Nurcahyaningrat, Pengageng Yogiswara, GKR Retno Dumilah Pengageng Pasiten, serta GRAy Rumbay Timoer Wakil Pengageng Keputren, KPH Dr Wirabumi, GKR Galuh Kencono Pengageng Keputren, KGPH Mangkoebumi pengageng Kartipura yang juga calon putra mahkota atau calon PB XIV. Ikut membaca doa dan himbauan agar hadirin mengikuti keteladanan Sultan Agung Prabu Hanyokrokusumo dilakukan oleh KH Yahya Al Mutakin pimpinan Pondok Pesantren (Ponpes) Madinah Munawaroh, Banyumanik, Semarang.

GKR Koes Moertiyah Wandansari dalam sambutannya mengatakan atas jasa-jasanya sebagai pejuang dan budayawan, Sultan Agung telah ditetapkan menjadi pahlawan nasional Indonesia berdasarkan SK Presiden No 106/TK/1975 tanggal 3 November 1975. "Sultan Agung dengan gagah berani menyerang VOC Belanda di Batavia pada tahun 1628  dan 1629. Sultan Agung juga dikenal sebagai pencipta Kalender Jawa yang juga disebut sebagai Kalender Sultan Agungan," ujarnya.

Sultan Agung Adi Prabu Hanyokrokusumo lahir di Kotagede, Kesultanan Mataram tahun 1593 dan wafat tahun 1645. Di bawah kepemimpinannya tahun 1613-1645 Mataram berkembang menjadi kerajaan terbesar di Jawa dan Nusantara pada saat itu. Sultan generasi ketiga kerajaan Mataram yang bergelar Sultan Abdullah Muhammad Maulana Mataram Sultan Agung Senapati ing Ngalaga Abdurrahman melakukan penyerbuan di Batavia tahun 1628 dan tahun 1629 dengan tujuan untuk mengusir VOC dari Pulau Jawa.

Untuk mensinkronkan upacara adat Jawa agar sesuai dengan penanggalan Islam, Sultan Agung menciptakan kalender Jawa yang dikenal sebagai Kalender Sultan Agungan. Pada masa itu, masyarakat Jawa menggunakan kalender Saka yang berasal dari India.

Kalender Saka didasarkan pergerakan matahari (solar), berbeda dengan Kalender Hijriyah atau Kalender Islam yang didasarkan pada pergerakan bulan (lunar). Oleh karena itu, perayaan-perayaan adat yang diselenggarakan oleh keraton tidak selaras dengan perayaan-perayaan hari besar Islam.

Sultan Agung menghendaki agar perayaan-perayaan tersebut dapat bersamaan waktu. Untuk itulah diciptakan sebuah sistem penanggalan baru yang merupakan perpaduan antara kalender Saka dan kalender Hijriyah. Sistem penanggalan inilah yang kemudian dikenal sebagai kalender Jawa atau kalender Sultan Agungan.

Kalender ini meneruskan tahun Saka, namun melepaskan sistem perhitungan yang lama dan menggantikannya dengan perhitungan berdasar pergerakan bulan. Karena pergantian tersebut tidak mengubah dan memutus perhitungan dari tatanan lama, maka pergeseran peradaban ini tidak mengakibatkan kekacauan, baik bagi masyarakat maupun bagi catatan sejarah. (Hwa)

BERITA REKOMENDASI