Kraton Solo ‘Keponthal-ponthal’ Siapkan Regenerasi Penari dan Pambiwara

SOLO KRJOGJA.com – Tiga lembaga adat di Kraton Surakarta yakni perpustakaan kraton Sasana Pustaka, Sanggar Pasinaon Pambiwara serta Sanggar Latihan Beksan atau tari Kraton Surakarta ternyata sudah lima bulan ini tutup. Terhitung sejak Jumenengan PB XIII sejak 22 April 2017 lalu.

Sentana dalem yang membawahi tiga lembaga itu menginginkan PB XIII dan pihak kepolisian segera membuka kembali, seperti yang terjadi pada Museum Kraton Surakarta yang langsung dibuka kembali sehari setelah jumenengan yang diartikan sebagai rekonsiliasi konflik kraton.

Tiga orang pengageng yakni Pengageng Museum dan Pariwisata yang juga sebagai Kepala Sasana Pustaka, KGPH Poeger, Putri tertua PB XIII Hangabehi juga  bendara bedhaya sebutan untuk mantan penari Bedhaya Ketawang, GKR Timoer Rumbai Kusuma Dewayani serta GKR Wandansari Koes Moertiyah, Pengageng Sasana Wilapa Kraton Kasunanan Surakarta juga ketua yayasan Pawiyatan Kabudayan Jawi Kraton Surakarta yang membawahi Sanggar Pasinaon Pambiwara Kraton Surakarta, yang dihubungi secara terpisah , Selasa (12/10/2017) mengatakan harusnya tiga lembaga (Sasana Pustaka, Sanggar Latihan Beksan kraton Surakarta serta Sanggar Pasinaon Pambiwara Kraton Surakarta) harusnya dibuka untuk umum menyusul juga telah dibukanya Museum Kraton Surakarta.

“Kami pernah menyuruh penjaga gerbang Magangan kraton Surakarta agar membuka akses bagi masyarakat yang akan menuju  ke Sasana Pustaka maupun  latihan beksan kraton Surakarta dan Sanggar Pasinaon Pambiwara Kraton, tapi mereka menolak dengan alasan diperintah pihak kepolisian agar sementara tetap menutup akses pintu masuk ke kraton,” ujar KGPH Poeger dan Gusti Moertiyah kepada KRJOGJA.com.

Namun saat KRJOGJA.com mengkonfirmasi ke Kabid Humas Polda Jateng Kombes Pol R Djarot Padakova dan Wakapolresta Solo AKBP Andy Rifai, Selasa (12/9/2017), keduanya secara senada mengatakan pihak kepolisian telah membuka akses ke kraton Surakarta semenjak Jumenengan tanggal 22 April 2017 lalu. “Pun penutupan itu atas permintaan Sinuhun PB XIII menjelang prosesi Jumenengan, setelah Jumenengan aman dan lancar pihak kepolisian menyerahkan kembali pengamanan kraton Surakarta kepada raja PB XIII,” ujar Kombes Padakova dan Wakapolresta AKBP Andy Rifai kepada KRJOGJA.com secara terpisah.

Akibat penutupan Sasana Pustaka yang didirikan oleh Susuhunan Pakoe Boewono X tanggal 12 Januari 1920 membuat koleksi benda-benda langka milik perpustakaan seperti Al Qur’an bertuliskan  dan diterjemahan dalam bahasa Jawa, buku-buku Babad tentang Raja-Raja Surakarta dan Dinasti Mataram, Sejarah Kraton dan pengetahuan tentang kebudayaan Kraton yang ditulis dengan huruf dan bahasa Jawa serta  koleksi surat kabar kuno, seperti Bromartani dan beberapa buku kuno lainnya terancam rusak.

“Repotnya juga koleksi yang rawan rusak itu harus dialiri penyejuk udara (AC) secara terus-menerus 24 jam. Kalau Sasana Pustaka terbengkalai AC nya juga mati, koleksi yang tidak ternilai itu bakal  rusak,” ujar Gusti Poeger seraya menambahkan banyak mahasiswa S-2 dan S-3 yang melakukan penelitian di Sasana Pustaka juga kesulitan masuk ke bangunan yang terletak di  dalam Kraton Surakarta, menempati ruangan dua lantai di sebelah Selatan Sasana Handrawina.

“Karena tidak pasti sampai kapan Sasana Pustaka bisa di akses untuk penelitian dan studi banyak mahasiswa S-2 dan S-3 terpaksa mengganti judul penelitian tidak lagi meneliti tentang buku-buku dan benda pusaka peninggalan dinasti Mataram di kraton Surakarta,” ujar Gusti Poeger.

Disisi lain kraton semakin 'keponthal-ponthal' mempersiapkan regenerasi penari maupun pambiwara atau master ceremony yang menguasai bahasa Jawa.

“Saya tidak habis pikir katanya pemerintah dan masyarakat agar nguri-nguri budaya Jawa, namun penari atau pambiwara yang akan masuk kraton Surakarta untuk latihan beksan maupun MC berbahsa Jawa tidak boleh masuk kraton. Dan lembaga kraton Surakarta seperti latihan beksan kraton Surakarta dan Sanggar Pasinaon Pambiwara Kraton Surakarta akhirnya tutup,” ujar putri sulung PB XIII, GKR Rumbay dan Gusti Moeng kepada KRJOGJA.com yang menemuinya di Ndalem Kayonan, kompleks Kraton Surakarta.

GKR Rumbay menuturkan jangankan untuk regenerasi penari Bedhaya Ketawang, dimana syaratnya latihan menari setiap Selasa kliwon, penari perempuan harus belum menikah atau masih perawan untuk dapat menarikan tarian sakral ciptaan Panembahan Senapati pendiri dinasti Mataram.

“Sekarang ini untuk regenerasi tarian seperti Srimpi atau beksan lainnya khas kraton Surakarta sulit karena untuk latihan dan masuk ke kraton Surakarta bagi warga biasa masih dilarang,” ujar GKR Rumbay.(Hwa)

 

BERITA REKOMENDASI