Kurung Anak Bergangguan Jiwa, Ngadiyem Rela Tidur di Teras Rumah

NGADIYEM (71) pasrah putra semata wayangnya, Tarno (37) diangkut ke RSJD untuk penanganan intensif pasien bergangguan jiwa. Wanita lansia asal Dusun Ngelo Rt 15/Rw VI Desa Jatisobo, Jatipuro ini tak sanggup lagi menanggung beban ekonomi maupun perawatan putranya yang kini dikurung di rumah. 

"Kalau tidak dikurung, takutnya menimbulkan keresahan. Anak saya ini pernah merusak rumah tetangga sampai kaca jendela pecah, melempar genting dengan batu sampai menakuti orang lewat," kata Ngadiyem kepada KR di rumahnya, Minggu (9/9). 

Tarno, putranya itu dikurung di rumahnya berukuran 4X10 meter persegi. Seluruh pintu di rumah sederhana itu dipalang kayu dan dikunci, supaya menghalangi Tarno kabur. Tempat Tarno dikurung sampai tak menyisakan ruang lain, sehingga ibundanya rela tidur di teras rumah. Ngadiyem selama puluhan tahun bertahan di kondisi demikian. Setelah putra sulungnya meninggal dunia, tanggung jawabnya kini justru lebih berat. Putra sulungnya, Sutarto semasa hidup juga mengalami gangguan jiwa. 

"Tarto dan bapaknya sudah pergi (meninggal dunia). Sekarang tinggal saya dan anak ini," katanya. 

Ngadiyem tanpa penghasilan tetap, hidup dengan tertatih. Untuk makan dirinya dan anaknya yang sakit jiwa, ia mengandalkan belas kasihan kerabat untuk sekadar mengganjal perut. Ia mengatakan, petugas Dinas Sosial mendatanginya belum lama ini untuk menawarkan pengobatan Tarno secara cuma-cuma.  "Monggo saja dirawat. Saya sudah ikhlas melepasnya," katanya. 

Tarno sehari-hari hanya berkutat di dalam rumah tertutup rapat dan gelap. Tak ada penerangan kecuali semburat sinar matahari yang menembus celah-celah genting. Ibundanya sengaja menyingkirkan semua perabot agar tak dihancurkannya ketika mengamuk. Ia bahkan berhenti memberinya pakaian bersih.  "Kalau diberi baju malah disobek-sobek," ujarnya menceritakan kondisi putranya itu yang kini terkurung dalam kondisi telanjang bulat. 

Loso, paman Tarno menambahkan, keponakannya itu sudah tiga kali dibawa berobat ke RSJD Kentingan, Solo. Lantaran keluarga berekonomi lemah, mereka memutuskan menghentikan pengobatannya.  "Dua anak mbakyu (Ngadiyem) itu keterbelakangan mental sejak lahir. Sejak suaminya meninggal dunia, tak ada yang mencari nafkah. Mereka makan dari pemberian para tetangga. Kasihan sekali. Kabarnya, pemerintah mau mengambil Tarno untuk diobati. Kalau saya, itu lebih baik. Misalnya sudah sembuh, kami mau menerimanya kembali ke lingkungan," katanya. (Lim)

 

 

BERITA REKOMENDASI