Lagi, Leptospirosis Tewaskan Petani

KARANGANYAR, KRJOGJA.com – Leptospirosis menewaskan seorang petani asal Desa Alastuwo, Kebakkramat, Kamiyen (61). Kematiannya menambah panjang daftar korban meninggal dunia akibat penyakit dari kencing tikus itu.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Karanganyar, Winarno mengatakan Kamiyem meninggal dunia di RS Hermina Solo. Ia sebelumnya dirawat di RS Griya Husada Karanganyar. “Buruh tandur (tanam) ini tidak tertolong. Kami langsung melakukan penyelidikan epidemologi,” katanya.

Berdasarkan informasi yang diperolehnya, Kamiyem memiliki luka di kaki. Diduga, bakteri leptospira interrogans masuk ke tubuhnya melalui luka itu saat ia beraktivitas di sawah. Dugaan lain, bakteri itu terbawa urine tikus di lingkungan rumahnya. Termasuk mengenai makanan.

“Rumahnya kumuh dan banyak barang rosok tempat tikus beranak pinak. Ada banyak tikus tadi di rumahnya,” katanya.

Dalam penyelidikan epidemologi pada tiga kasus kematian lainnya akibat leptospirosis, ternyata mereka secara langsung berinteraksi di lingkungan tidak sehat. Korban meninggal dunia asal Gondangrejo merupakan supir angkutan barang. Ia menaikturunkan barang-barang secara mandiri tanpa perlindungan kulit. Sedangkan dua korban asal Colomadu dan Tasikmadu bercocok tanam alias petani. Total kasus leptospirosis di bulan Januari 2020 mencapai 7 kasus dengan empat kematian.

Di lokasi kunjungan, tim dinas kesehatan meminta seluruh masyarakat, Babinsa dan puskesmas memperhatikan kondisi lingkungan. “Kasus ini termasuk tinggi dengan jatuh korban jiwa cukup banyak,” katanya.

Sementara itu, 25 kasus demam berdarah (DB) terjadi di delapan kecamatan di Karanganyar pada Januari 2020 ini, dengan satu penderita meninggal dunia.
Kasusnya terjadi wilayah Jumantono (7 kasus), Matesih (1 kasus), Karanganyar (2 kasus), Tasikmadu (4 kasus, 1 meninggal), Colomadu (3 kasus), Gondangrejo (3 kasus), Mojogedang (2 kasus) dan Kerjo (1 kasus).
Untuk mencegah bertambahnya kasus, masyarakat diimbau untuk mengintensifkan pemberantasan sarang nyamuk (PSN), serta menjalani pola hidup bersih dan sehat (PHBS). Dibandingkan pada Januari 2019, kasus DB di Karanganyar sebanyak 29 kasus.

“Memang tidak sebanyak tahun lalu, tapi satu kasus bagi kami sudah menjadi hal yang harus segera diantisipasi. Apalagi ini ada satu penderita yang meninggal,” kata Sekretaris DKK Karanganyar Fathul Munir.

Ia sudah meminta pada seluruh jajarannya, termasuk di wilayah kecamatan untuk bergerak menyosialisasikan kembali pentingnya PSN dan PHBS, dalam mencegah DB. Kader jumantik (juru pemantau jentik) di desa-desa juga diminta lebih intensif bergerak.

“Yang sering terjadi, masyarakat lalai ketika merasa aman. Makanya, harus greteh, jangan bosen-bosen menyosialisasikan PSN dan PHBS. Dirungokke atau tidak, pokoknya masyarakat dielingke. Biar kasusnya tidak berulang,” tandasnya. (Lim)

BERITA REKOMENDASI