Loji Gandrung Kini Jadi Obyek Wisata

Editor: KRjogja/Gus

SOLO, KRJOGJA.com – Rumah dinas Walikota Solo yang dikenal dengan sebutan Loji Gandrung, dibuka untuk umum sebagai destinasi wisata baru, setelah proses renovasi tuntas akhir tahun ini. Area yang dibuka untuk umum, meliputi halaman depan serta bangunan induk yang terdiri lobi depan, ruang tamu dengan dekorasi gaya Eropa – Jawa, kamar Bung Karno, ruang pertemuan, dapur, dan lobi belakang. Sedangkan kamar tidur walikota yang semula menempati salah satu ruangan pada di bangunan induk, pindah ke sisi belakang dan berada di luar bangunan utama.

Walikota Solo, FX Hadi Rudyatmo, menjawab wartawan, di kantornya, Rabu (5/12), mengungkapkan, fungsi sebagai rumah dinas tetap dipertahankan, hanya saja dilakukan penataan ulang tata ruang, untuk memisahkan area yang dialokasikan untuk destinasi wisata, serta tempat tinggal dinas. Tidak ada masalah jika harus kehilangan kamar tidur, sebab masih ada ruangan lain di luar bangunan induk yang dapat dimanfaatkan untuk aktivitas keluarga yang bersifat privat.

Hingga saat ini, proses penataan memasuki tahap penyelesaian akhir, diantaranya pembuatan taman berpelengkap kolam di halaman depan, 'redesign' pagar agar mengesankan terbuka dan luas, pemindahan pos jaga, dan lain-lain. Diperkirakan revitalisasi kawasan Loji Gandrung yang menelan dana sekitar Rp 2,3 miliar, dapat dirampungkan dua pekan ke depan, sekaligus menandai pembukaan rumah dinas pejabat ini menjadi ruang publik sekaligus destinasi wisata.

Loji Gandrung yang dibangun sekitar tahun 1830, tambahnya, selain telah ditetapkan menjadi Bangunan Cagar Budaya (BCB), juga banyak menyimpan sejarah panjang. Semula bangunan yang berada di jantung Kota Solo ini menjadi tempat tinggal seorang pejabat perkebunan berkebangsaan Belanda, Johannes Augustinus Dezentje. Pasca kemerdekaan, kepemilikan tanah dan bangunan beralih ke tangan Pemerintah Republik Indonesia dan dijadikan rumah dinas walikota. Perihal sebutan Loji Gandrung bergandengan dengan pemanfaatan rumah berarsitektur Eropa itu pada masa Belanda yang acap digunakan sebagai ajang pesta dansa yang dalam Bahasa Jawa dikenal dengan istilah ganrung.

Setiap berkunjung ke Solo, Presiden Soekarno hampir selalu bermalam di Loji Gandrung dengan menempati salah satu kamar di bagian depan. Hingga saat ini, kamar Bung Karno tetap dipertahankan dengan kelengkapan tak berubah, seperti piano tua, tempat tidur, hiasan dinding, dan sebagainya. "Sebagai bentuk penghormatan, kamar Bung Karno dibiarkan kosong, namun tetap dalam perawatan, hingga menjadi obyek kunjungan menarik," jelasnya.

Tak hanya bisa digunakan untuk obyek kunjungan, masyarakat juga difasilitasi untuk memanfaatkan salah satu ruangan untuk pertemuan dengan kapasitas 20 orang. Hanya saja, pengguna dipersyaratkan untuk memanfaatkan kuliner tradisional khas Solo, seperti gethuk, klepon, cenil, cabuk rambak, nasi liwet, dan lain-lain. (Hut)

BERITA REKOMENDASI