Mantan Menteri Kimpraswil Prof Dr Sunarno Tutup Usia

SOLO, KRJOGJA.com – Mantan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah (Kimpraswil) pada Kabinet Gotong Royong Prof Dr  Ir. H. Soenarno, Dipl.HE (76) tutup usia setelah dirawat karena sakit di Rumah Sakit Metropolitan Medical Centre (MMC)  Kuningan, Jakarta Selatan jam 24.00 Selasa (5/3/2018) dini hari. Jenazah kemudian diterbangkan ke Solo. Setelah disemayamkan di rumah duka di Jalan Bhayangkara nomor 11 Solo, jenazah dimakamkan di makam keluarga di Astana Banaran, Dusun Talang, Sawahan, Desa Banaran, Kecamatan Grogol , Kabupaten Sukoharjo berdampingan dengan makam istrinya Hj Soepanti.

Prof Soenarno menurut keponakannya Arif Susilastyo di rumah duka Jalan Bayangkara Solo, Selasa (5/3/2018) belakangan sering  mengeluh merasa sakit di dadanya. "Setelah dirawat di RS MMC Jakarta , bapak (Prof Sunarno) tutup usia. Menteri PUPR  Basuki Hadimuljono yang dikabari langsung mengatakan akan mendampingi jenazah Prof Sunarno yang diterbangkan dari Jakarta ke Solo," ujar Arif.

Menteri PUPR Basuki Hadimulyono yang mengaku sebagai kader dari Prof Sunarno mengatakan bangsa Indonesia kehilangan putra terbaiknya dengan wafatnya Prof Sunarno ."Beliau pejabat , intelektual yang menerapkan pola hidup sederhana, pekerja keras yang hasil karyanya sejumlah bendungan raksasa di Indonesia menjadikan tata kelola irigasi di Indonesia berjalan baik,"ujar Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Ir Basuki Hadimulyono MSc PhD dengan nada terharu.

Sunarno muda meraih gelar sarjananya tahun 1962 di Fakultas Teknik Sipil Universitas Gajah Mada, kemudian melanjutkan pendidikan ke luar negeri. Gelar Sp I dari IHE Delft (International Institute for Hydraulic and Environmental Engineering Delft) Nederlands diraih pada tahun 1977, kemudian Doctorate Edegree Program in Civil Enginering Columbia Pasifik University, San Rafael, California, Amerika Serikat diraih tahun 1982. Dari bersekolah di Delft, Belanda, Sunarno dikenal sebagai ahli teknik bendungan air yang merupakan keahlian cukup langka di Indonesia.

Program doktornya (S-3) di Fakultas Pasca Sarjana Program Studi Pendidikan Ekonomi Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Negeri Malang tahun 1985.

Setelah lulus dari UGM pekerjaan pertamanya adalah bekerja di proyek Brantas, Jawa Timur. Sunarno tidak malu meski bergelar sarjana teknik menekuni pekerjaan dari bawah sebagai pekerja harian hingga dipercaya memimpin proyek. Setelah empat tahun bekerja Sunarno diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS).

Pada kepemimpinan Kementrian Pekerjaan Umum dipegang Ir Sutami, Sunarno dipercaya menjadi Kepala Bagian Proyek Listrik Tenaga Air (PLTA) Karangkates di Malang, Jawa Timur sebuah bendungan yang cukup besar di Jawa waktu itu.

Setelah berhasil memimpin proyek bendungan Karangkates, Sunarno ditugaskan memimpin proyek satu ke proyek lain diantaranya proyek Brantas Hilir (1979-1980), Proyek Induk PWS Citanduy, Jawa Barat (1985-1988), Proyek Induk PWS Jratunseluna, Jawa Tengah (1988-1991) yang lebih dikenal dengan sebutan proyek waduk (bendungan irigasi) Kedungombo.

Sunarno masuk ke birokrasi kementrian Pekerjaan Umum (PU) Pusat  diawali dengan menjabat sebagai Kepala Pusat Pengelolaan Data dan Pemetaan (Pusdata) Departemen PU tahun 1991 – 1993. Setelah itu posisi prestisius diraihnya di Departemen PU seperti Kepala Biro Perencanaan Departemen PU dan Direktur Bina Pelaksanaan Wilayah Barat Departemen PU Ditjen Pengairan hingga sebagai Direktur Jendral Sumber Daya Air Departemen Kimpraswil tahun 2001.

Pada masa pemerintahan Kabinet Gotong Royong pimpinan Presiden Megawati Soekarno, Sunarno diangkat sebagai Menteri Pemukiman dan Prasarana Wilayah (2001 -2004).

Sepanjang kariernya Sunarno banyak mendapat berbagai penghargaan. Diantaranya Piagam Penghargaan PELITA 1 (1980), Satya Lencana Pembangunan (1982), Piagam Penghargaan dalam rangka pembangunan Jembatan Comal, Piagam Satya karya 20 tahun, Tanda Kehormatan Satya Lencana Karya Satya 20 tahun serta Tanda Kehormatan Satya Lencana Karya Satya 30 Tahun (2000).(Hwa)

 

BERITA REKOMENDASI