Masuk Pancaroba, BPBD Sukoharjo Petakan Wilayah Rawan Bencana Alam

Editor: KRjogja/Gus

SUKOHARJO, KRJOGJA.com – Pemetaan wilayah rawan bencana alam seperti banjir, tanah longsor dan angin kencang mulai dilakukan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sukoharjo mengingat kondisi sekarang sudah masuk peralihan cuaca dari kemarau ke penghujan. Petugas sudah diterjunkan memantau di masing masing wilayah rawan mengenai kondisi terakhir. Pantauan dilakukan dengan melihat sungai, saluran air, tebing sungai dan perbukitan karena rawan terjadi bencana alam saat hujan turun.

Kepala BPBD Sukoharjo Sri Maryanto, Sabtu (19/10) mengatakan, masing masing wilayah memiliki karakteristrik sendiri mengenai kerawanan bencana alam. BPBD Sukoharjo pada penghujung musim kemarau kali ini sudah bergerak melakukan pemetaan wilayah rawan di 12 kecamatan. Petugas diterjunkan ke lapangan untuk melihat secara langsung kondisi terakhir wilayah tersebut dalam menghadapi kerawanan bencana alam.

Koordinasi juga dilakukan dengan melibatkan pemerintah desa, kelurahan dan kecamatan untuk mengetahui perkembangan terakhir kondisi wilayah. Sebab sudah ada penanganan dari pemerintah untuk meminimalisir terjadinya bencana alam.

Upaya tersebut seperti tindakan pembangunan saluran air untuk mengatasi masalah banjir, talud sebagai pengaman tebing longsor dan pemangkasan pohon mencegah tumbang saat angin kencang datang. Kondisi terakhir inilah yang akan dicek BPBD Sukoharjo di lapangan.

Sesuai karakteristik kerawanan bencana alam wilayah selatan Sukoharjo meliputi Kecamatan Tawangsari, Weru dan Bulu paling rawan terjadi tanah longsor karena banyak bukit dan gunung. Selain itu juga banjir mengingat letaknya berada di wilayah perbatasan sehingga sering mendapat kiriman air dari daerah lain. Kerawanan berikutnya yakni angin kencang karena masih banyak lahan terbuka ditumbuhi pohon besar.

Di wilayah tengah kota dan utara kerawanan utama bencana alam berupa banjir karena dilintasi aliran Sungai Bengawan Solo dan beberapa sungai lainnya. Wilayah tersebut meliputi Kecamatan Sukoharjo Kota, Bendosari, Nguter, Grogol, Mojolaban dan Polokarto. Banjir sering terjadi setiap tahun saat musim hujan datang. Akibat kejadian tersebut air merendam rumah, lahan pertanian dan sejumlah fasilitas umum lainnya.

"Wilayah rawan bencana alam masih sama seperti tahun sebelumnya. Tapi kami terus perbaharui data dengan pemetaan di lapangan. Sebab bisa saja tingkat kerawanan di wilayah sudah berkurang karena ada upaya dari Pemkab Sukoharjo seperti pembangunan saluran air atau drainase untuk menuntaskan masalah banjir di tengah kota," ujarnya.

Kerawanan yang masih dikhawatirkan BPBD Sukoharjo yakni berkaitan dengan masalah di Sungai Bengawan Solo. Sebab kewenangan penanganan tersebut berada di Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSBS). Pemkab Sukoharjo tidak bisa bertindak karena bukan jadi kewenangannya.

"Ada beberapa pekerjaan rumah belum terselesaikan di Sungai Bengawan Solo untuk meminimalisir banjir. Seperti pengadaan rumah pompa air, normalisasi Kali Langsur, pembangunan talud pengaman tebing sungai di Desa Dalangan, Kecamatan Tawangsari yang longsor dan lainnya. Itu jadi catatan BPBD Sukoharjo dan masih jadi kerawanan tinggi dalam menghadapi bencana alam," lanjutnya.

BPBD Sukoharjo nantinya akan mengintensifkan pemantauan wilayah sekitar November-Desember saat hujan sudah normal turun. Sebab disaat ini kondisi alam sudah rawan terjadi bencana alam khususnya banjir dan tanah longsor.

"Masyarakat sudah semakin paham karena terus kami edukasi dan sosialisasi mengenai penanganan bencana alam. Salah satu yang sudah dan terus dilakukan yakni gerakan memungut sampah dan membersihkan sungai. Kegiatan itu dimaksudkan agar aliran air lancar dan tidak menyebabkan banjir saat hujan turun," lanjutnya.

Camat Grogol Bagas Windaryatno mengatakan, upaya penanganan masalah banjir di tengah kota wilayah Kecamatan Grogol sudah dilakukan Pemkab Sukoharjo dengan melakukan pembangunan saluran air atau drainase di Langenharjo dan Solo Baru. Saluran dibangun untuk mengalirkan air dan dibuang langsung ke Sungai Bengawan Solo. Sebelumnya kondisi saluran rusak karena sedimentasi dan tumpukan sampah parah sehingga menyebabkan aliran air tidak lancar dan mengakibatkan banjir.

Pembangunan saluran diharapkan bisa segera selesai secepatnya sebelum hujan turun. Dengan demikian maka masalah banjir sudah tidak terjadi lagi.

"Saluran air setelah dibangun dan masalah banjir selesai maka tinggal masyarakat membantu menjaga kebersihan lingkungan. Jangan membuang sampah sembarangan apalagi di saluran air. Apabila melanggar maka langsung kami proses," ujarnya. (Mam)

 

BERITA REKOMENDASI