Mei-Juli, Elpiji Melon Ditambah 5 Persen

KARANGANYAR, KRJOGJA.com – Distribusi elpiji ukuran 3 kilogram di Kabupaten Karanganyar ditambah 3-5 persen dari alokasi harian 29 ribu tabung, terhitung awal Mei sampai akhir Juli 2017. Penambahan suplai barang bersubsidi itu pada tiga bulan menjelang Ramadan sampai akhir Lebaran untuk mengantisipasi lonjakan permintaan di momentum puncak.

Kepala Bagian Perekonomian Setda Pemkab Karanganyar, Budi Supriyono mengatakan hal itu kepada wartawan usai menghadiri pertemuan perkumpulan petani pemakai air (P3A) dan gabungannya di gedung Aisyiyah Tegalsari, Senin (15/5/2017).

“Sejak awal Mei sudah ditambah oleh Pertamina melalui Hiswana Migas. Penambahannya 3-5 persen dari alokasi harian. Perhitungan ini sama seperti tahun lalu. Potensi kenaikan konsumsi juga sama, sekitar itu (3-5 persen),” katanya.

Ketersediaan barang kebutuhan pokok bersubsidi itu menjadi salah satu perhatian Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) di momentum Ramadan mendatang. TPID memprediksi bakal terjadi kenaikan konsumsi elpiji melon akibat geliat konsumsi rumah tangga dan pelaku UKM. Sejumlah barang kebutuhan pokok juga diprediksi mengalami kelangkaan dan kenaikan harga, namun penanganannya tidak terlalu rumit. Ini berbeda dengan penanganan kelangkaan elpiji tiga kilogram yang harus dirancang penambahan pasokannya melalui keputusan pemerintah pusat.

Lebih lanjut dikatakan, pasokan tambahan tersebut diprediksi cukup menyuplai kebutuhan masyarakat yang juga meningkat. Tidak ada lagi penambahan di pertengahan momentum puncak itu. Jika dihitung, sekitar 1.450 tabung disalurkan per bulan mulai Mei-Juli di luar jatah bulanan 29 ribu tabung.

“Sebenarnya dengan jatah reguler saja sudah cukup. Terbukti masih bersisa barang di tingkat pangkalan. Namun ini untuk mengantisipasi saja maka ditambah,” katanya.

Budi mengaku telah menyiapkan tim inspeksi mendadak (sidak) barang kebutuhan pokok yang bertugas selama Ramadan nanti. Termasuk distribusi elpiji melon dengan sasaran sidak mulai SPBE sampai ke pengecer. Sejumlah komoditas diperhatikan lebih serius, seperti kenaikan tidak wajar harga bawang putih.

“Sejak April kemarin terlihat kenaikan harga signifikan. Sekarang sampai Rp 60 ribu. Ini jelas mempengaruhi tingkat inflasi. Salah satu faktornya, komoditas itu impor,” katanya. (R-10)

BERITA REKOMENDASI