Membangkitkan Lagi Jeruk Bali Matesih

Editor: KRjogja/Gus

KARANGANYAR (KRjogja.com) – Budidaya jeruk bali di Desa Ngadiluwih, Matesih melengkapi upaya swasembada buah di salah satu wilayah lereng Gunung Lawu itu. Penanaman di tiap rumah juga bakal dipantau dinas terkait.

Hal itu dikemukakan Bupati Karanganyar, Juliyatmono kepada warga Desa Ngadiluwih dalam pencanangan sentra jeruk bali di desa tersebut, Senin (12/2). Dikatakannya, sekarang ini tak banyak tumbuh pohon jeruk bali di Ngadiluwih. Padahal buah berkandungan air melimpah itu potensial dijadikan komoditas. Seperti diketahui, budidaya buah di Matesih diakui kualitasnya dengan varietas duku, mangga, durian, manggis, pepaya dan jambu biji.

“Seiring berkembangnya waktu, jeruk bali pudar. Namun kini akan dilahirkan lagi. Semoga menjadi jujukan desa buah yang menyediakan produk yang komplit,” katanya.

Pemberian 300 bibit pohon jeruk bali mengawali upaya tersebut. Pemerintah Desa Ngadiluwih diminta mendata warganya yang bersedia membudidaya di pekarangannya. Bupati hanya berpesan jangan menanamnya di area embung.

“Wes enggak usah rayahan. Akan terus saya pantau perkembangan pohon jeruknya. Jika ternyata bantuan stimulan masih kurang, akan dikirim lagi bibit jeruk bali,” katanya.

Kades Ngadiluwih, Matesih, Rusdiyanto mengapresiasi bantuan bibit tersebut. Ia berharap dapat lebih memacu program swasembada buah di Matesih. Ia mengatakan, dulunya pohon jeruk bali melimpah di desanya. Namun entah mengapa lambat laun kurang populer sehingga tersisih dengan duku, durian dan sebagainya.

Rusdiyanto memastikan perawatan tanaman itu sederhana. Tak butuh waktu sampai lima tahun, buahnya sudah dapat dipanen. Metode pemasaran produk agrobisnis itu di Matesih diklaim sempurna.

“Kami sudah memiliki paguyuban sendiri yang bermanfaat di alur penjualan produk perkebunan. Saat jeruk bali nanti dipanen, maka bisa langsung ditawarkan ke rekanan. Model tradisional dengan langsung dari petani ke penjual juga bisa,” katanya.

Dilihat dari bibit jeruk bali bantuan stimulan, ia meyakini kualitasnya standar. Tinggal keseriusan petani menumbuhkembangkannya. (Lim)

BERITA REKOMENDASI