Menyucikan Pusaka, Berharap Corona Segera Hilang

Editor: Ivan Aditya

KARANGANYAR, KRJOGJA.com – Jamasan keris pusaka Kanjeng Kyai Pamot menandai pengharapan berakhirnya pagebluk yang menyertai Pandemi Covid-19. Senjata tradisional milik KGPAA Mangkunegara VIII ini diwariskan ke Bupati Karanganyar secara turun temurun.

Jamasan Kyai Pamot tidak boleh dikerjakan sembarang orang. KRMT Lilik Priarso Tirtodiningrat memimpin rombongan sesuai titah raja Mangkunegaran. Koleksi warisan itu dikeluarkan dari papan palereman gedong pusaka oleh Kabag Umum Wardoyo didampingi Kepala Badan Keuangan Daerah Kurniadi Maulato dan Kepala Satpol PP Yophie Eko Jatiwibowo sesuai perintah Bupati Juliyatmono. Prosesi memandikan Kyai Pamot berlangsung sekali setahun tiap bulan Sura pada penanggalan Jawa.

“Ini sudah tradisi yang rutin dilakukan tiap tahun. Meski dalam masa pandemi, tetap tak boleh diabaikan,” kata KRMT Lilik kepada KRJOGJA.com, Kamis (03/09/2020).

Uba rampe jamasan menyertai rombongan dan parogo seperti sesajen, air kembang dan jeruk nipis. Setelah serah terima pusaka dari Bupati Juliyatmono ke rombongan Magkunegaran, jamasan pun dimulai. Aroma bakaran dupa menyeruak lokasi jamasan di salah satu sisi pendopo rumah dinas bupati. Suasana sakral seakan makin menurunkan suhu dingin ruangan itu.

Dalam pidato sambutannya, Bupati Karanganyar Juliyatmono menyampaikan, Pusaka Kanjeng Kyai Pamot memang perlu dibersihkan. Bahannya dari logam mudah berkarat. Lantaran warisan dari raja Mangkunegara terdahulu, maka patut dirawat sesuai tata cara adat. Ia berharap ruwatan pusaka tersebut memberi semangat bangkit dari keterpurukan. Terutama pandemi Covid-19.

“Agar Karanganyar segera terbebas dari wabah Covid-19, bisa tentrem dan ayem. Maka pusaka ini harus dirawat dengan baik agar awet,” jelas Bupati Juliyatmono.

Usai dijamasi, utusan Mangkunegara menyerahkannya lagi ke Bupati Juliyatmono agar disimpan. Ia juga berpesan ke pejabat bupati periode selanjutnya untuk tetap melestarikan ritual itu. (Lim)

BERITA REKOMENDASI