Meriahkan Dies, 34 Guru Besar UNS Main Ketoprak

Editor: KRjogja/Gus

SOLO (KRjogja.com) – Pagelaran kethoprak "Wahyu Angedhaton" yang didukung 34 Guru Besar Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Rabu malam (21/3), menyedot perhatian warga kampus UNS. Auditorium malam ini benar-benar disulap menjadi panggung yang menarik perhatian.

Penonton dibuat tidak hanya fokus menatap di stage. Tapi ketika adegan Sinuhun Pakoe Boewono II (yang diperankan rektor Prof Dr Ravik Karsidi) bersama rombongan tiba di Kartasura, perhatiannya mengarah ke pintu masuk. Sinuhun PB II dari Ponorogo datang menunggang kuda.

Auditorium yang biasanya untuk menggelar acara-acara resmi, malam itu dilewati kuda untuk menggambarkan perjalanan sang Raja. Ketika mengetahui kondisi Kartasura sudah berantakan, Sinuwun pun memutuskan wahyu kedathon sudah tidak ada lagi. Dan diputuskanlah mencari lokasi baru yang tidak jauh.

Dialog yang ditunjukan para Guru Besar dalam lakon tersebut mengundang tepuk tangan penonton. Secara umum penonton menilai sukses dan memang benar puncak hiburan dies natalis 42 UNS adalah pagelaran Kethoprak. Karena jauh lebih meriah jika dibandingkan acara sebelumnya pagelaran wayang kulit.

Lakon Wahyu Angedaton dilatar belakangi sejarah perpindahan Keraton dari Kartasura ke Surakarta Hadiningrat. Dalam kontek ini UNS memaknai adanya migrasi dan transformasi paradigma perpindahan pola pikir, kemampuan dan kemauan untuk berubah dari satu situasi yang kurang baik menuju situasi yang baik.

Menurut Prof sahid Teguh, perpindahan Keraton selaras dengan perpindahan pola pikir untuk menyongsong masa depan yang penuh dengan tantangan. (Qom)

 

BERITA REKOMENDASI