Minim Peralatan, Petani Kopi Bruno Tetap Giat Berproduksi

PURWOREJO, KRJOGJA.com – Petani dan produsen kopi di Kecamatan Bruno, Kabupaten Purworejo, mengeluhkan kendala peralatan untuk memroses biji hingga siap jual. Kendati demikian, mereka tetap berproduksi meski harus menyangrai kopi di rekanan yang letaknya jauh dari wilayah Bruno.

Pemuda Desa Cepedak Arief Putra mengatakan, potensi kopi di desanya cukup besar. Luas tanaman kopi di Cepedak kurang lebih tiga hektare. "Tanaman tersebar di hampir setiap sudut desa, kebetulan Cepedak lokasinya berbukit, jadi pas untuk budidaya kopi," ungkapnya kepada KRJOGJA.com, Kamis (31/1).

Kopi di Cepedak dibudidayakan secara tumpang sari. Petani menanamnya di bawah tegakan hutan pinus atau bersama tanaman rempah. Budidaya kopi, katanya, berlangsung turun-temurun, namun secara tradisional.

Menurutnya, sebagian petani mulai memproses kopi sesuai standar pasar, seiring semakin digemarinya minuman itu oleh masyarakat. "Namun kesulitan kita memang tidak memiliki alat pemroses, terutama untuk tahap sangrai. Kami kerjasama dengan prosesor kopi di Desa Donorejo, Kaligesing, yang punya alatnya," tuturnya.

Persoalan budidaya dan pascapanen kopi itu dibahas dalam Bincang-Bincang Kopi Bruno di Gubug Rembug Desa Somoleter, Bruno, belum lama ini. Acara tersebut menghadirkan Camat Bruno Netra Asmara Sakti, jajaran muspika, pengusaha, petani dan penikmat kopi.

Untuk mengatasi persoalan itu, kecamatan akan mengusulkan bantuan alat pemroses kopi kepada bupati lewat Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja (Dinpernaker) Purworejo. "Pemerintah memberi respons positif, melihat besarnya potensi kopi di Bruno, yang terdapat di 18 desa," ujar Camat Bruno, Netra Asmara Sakti.

Selain itu, pemerintah juga akan berkoordinasi dengan Balai Latihan Koperasi Dinas Koperasi Jawa Tengah, untuk peningkatan kapasitas dan kemampuan pengusaha serta petani kopi Bruno. Pihak kecamatan juga mulai menginisiasi menggunakan kopi lokal menjadi sajian dalam aktivitas harian dan berbagai kegiatan resmi pemerintahan.

Ditambahkan, pengolahan kopi masih dilakukan secara sederhana. Setelah dipetik dan dikeringkan, kemudian disangrai, prosesor akan menumbuk biji secara manual, lalu dikemas serta dijual.

"Prosesnya masih sederhana, apabila kelak terealisasi bantuan alat, produksi semakin mudah dan kualitas tentu bisa ditingkatkan," tandasnya.(Jas)

BERITA REKOMENDASI