Napak Tilas Pelabuhan, Dermaga Beton Direvitalisasi

Editor: KRjogja/Gus

SOLO (KRjogja.com) – Dermaga Beton di aliran Bengawan Solo kawasan Kelurahan Sewu, yang pada kisaran abad XVII menjadi pelabuhan besar, direvitalisasi dengan fungsi lebih beragam. 

Selain sebagai titik penting penyelenggaraan event di aliran sungai terpanjang di Jawa ini, seperti festival gethek, balap perahu, arung Bengawan Solo, larung apem sewu, juga untuk ritual melarung abu jenasah warga Tionghoa setelah dikremasi.

Menjawab wartawan usai meresmikan Dermaga Beton, Jumat (22/9), Walikota Solo, FX Hadi Rudyatmo mengungkapkan, ke depan Dermaga Beton diproyeksikan menjadi gerbang wisata air di Bengawan Solo. Selain lokasi cukup strategis dengan naungan pohon besar, dari sisi sejarah juga pernah menjadi salah satu dari 44 pelabuhan besar di sepanjang aliran Bengawan Solo.

Ketika Bengawan Solo masih menjadi jalur transportasi utama, posisi Dermaga Beton disebutkan sebagai pelabuhan pusat bongkar muat aneka produk perkebunan dari berbagai daerah seperti Karanganyar, Sragen, Wonogiri, Klaten, dan Boyolali. Di sekitar Dermaga Beton, dulu juga berdiri gudang-gudang, namun sekarang tak lagi menyisakan artefak penting, sebab telah berubah menjadi perkampungan padat penduduk.

Karenanya, lokasi Dermaga Beton yang baru diresmikan tersebut, dipilih pada titik tempuran Kali Putat dengan bengawan Solo yang berjarak sekitar 200 meter dari dermaga perahu penyeberangan yang menghubungkan wilayah Kelurahan Sewu (Solo) dengan Gadingan, Kabupaten Sukoharjo.

Potensi wisata air di Bengawan Solo, menurut pria yang akrab disapa Rudy, sejauh ini belum memang belum digarap maksimal, karena kondisi perairan yang tercemari berbagai limbah industri. Demikian pula pada musim hujan, permukaan air meninggi, bahkan sesekali meluap hingga meluber ke sejumlah kampung di kawasan bantaran sungai. (Hut)

BERITA REKOMENDASI