Narkoba Mengancam, Pembentukan BNNK Solo Mendesak

Editor: KRjogja/Gus

SOLO (KRjogja.com) – Pembentukan Badan Narkotika Nasional Kota (BNNK) Solo, dinilai kian mendesak, menyusul wilayah bekas kerajaan ini rawan terhadap penyalahgunaan maupun peredaran narkoba. Bahkan prevalensi penyalahgunaan dan peredaran narkoba di Solo tercatat terbesar kedua di Jawa Tengah (Jateng). Karenanya, pembentukan BNNK Solo memperoleh prioritas dibandingkan daerah lain yang saat ini sudah mengantre.

Solo telah tumbuh menjadi kota cukup kompleks, jelas Kepala BNN Provinsi Jawa Tengah (Jateng), Brigjen Pol Tri Agus Heru, tingkat kerawanan terhadap penyalahgunaan dan peredaran narkoba pun, menjadi semakin tinggi. Untuk wilayah Provinsi Jateng, tambahnya, menjawab wartawan, usai rapat koordinasi persiapan pembentukan BNNK, di Balaikota, Rabu (21/9), prevalensi penyalahgunaan dan peredaran narkoba mencapai 1,9 presen dari populasi penduduk, atau setara dengan 500 ribu jiwa.

Meski belum masuk dalam lingkaran 10 besar penyalahgunaan dan peredaran narkoba di Indonesia, namun Tri Agus mengisyaratkan, langkah penanganan mesti segera diantisipasi secara sistematis, diantaranya membentuk BNNK. Terlebih, penyalahgunaan dan peredaran zat aditif berbahaya ini telah merambah di semua kalangan sosial, kelompok usia, perkotaan hingga pedesaan. Diproyeksikan, BNNK Solo dapat terbentuk dan beroperasi pada awal 2017 mendatang.

Di sisi lain, Asisten Bidang Pemerintahan, Said Romadhon, menjawab wartawan usai rapat koordinasi menyebutkan, pembentukan BNNK Solo memang relatif terlambat, dibanding daerah lain di Jateng. Hingga saat ini, tujuh daerah di Jateng telah membentuk BNNK, diantaranya Tegal, Semarang, Brebes, Cilacap, Kendal, Temanggung, dan Purbalingga, yang mungkin tingkat kerawanan penyalahgunaan dan peredaran narkoba tidak setinggi Kota Solo. (Hut)

 

BERITA REKOMENDASI