Orangtua Diajak Peka Penglihatan dan Pendengaran Anak

Editor: Ary B Prass

Sementara itu dari Puskesmas Karanganyar Kota, dr Ema Nur Fitriana mengatakan deteksi pendengaran terhadap 50 lebih anak, kebanyakan menunjukan kasus sama. Fungsi pendengarannya terganggu akibat kotoran di teliga. Para orangtua juga salah menangani hal itu. Disebutnya, membersihkan kotoran telinga dengan cutton bud malah makin memperparah.
“Para orangtua kebanyakan tidak tahu anaknya punya masalah pendengaran. Padahal itu sangat mengganggu belajar mereka. Mempengaruhi kecerdasan. Tahunya saat masalahnya terakumulasi. Perkembangan otaknya terhambat,” katanya.
Dari RSUD Karanganyar, dr Ida Nugrahani mengatakan terlambat mendeteksi gangguan penglihatan anak dapat berakibat fatal. Hal ini diawali sikap malas belajar maupun melakukan hal-hal sederhana.
“Selama mengalami gangguan, mata kurang optimal mengerjakan fungsinya. Mempengaruhi psikologis. Bagi anak, ini harus diwaspadai. Sayangnya mata miopi dan silinder tidak seperti penyakit lainnya yang kelihatan secara fisik. Sehingga orangtua dan anak kurang memperhatikan. Pengaruhnya di sekolah saat pelajaran tidak fokus membaca di papan tulis,” katanya.
Dikatakan, pemeriksaan penglihatan mendeteksi gangguan mata miopi atau mata minus dan silinder. Kondisi demikian banyak ditemui sejak anak usia SD. Penyebabnya beragam, sebagian karena genetika dan perilaku. (Lim)

BERITA REKOMENDASI