Pamsimas dan PAM Swadaya Marak, Pelanggan PDAM ‘Kabur’

Editor: KRjogja/Gus

SRAGEN, KRjogja.com – Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirto Negoro Sragen kehilangan sedikitnya 3.250 pelanggan selama kurun waktu setahun terakhir. Ribuan pelanggan itu hengkang seiring maraknya kemunculan Pamsimas (Program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat) dan PAM swadaya di beberapa tempat.

Pelanggan memutuskan berhenti berlangganan PDAM dan beralih ke layanan Pamsimas dan PAM swadaya yang dinilai lebih murah. Hal itu diungkapkan Dirut PDAM Tirto Negoro Sragen, Supardi kepada wartawan Kamis (3/6). “Sejak maraknya kehadiran Pamsimas dan PAM swadaya, kami kehilangan sekitar 3.250 pelanggan,” ujarnya.

Wilayah pelanggan yang paling banyak kabur ke Pamsimas dan PAM swadaya itu berada di Kecamatan Masaran, yakni Desa Pilang dan Desa Jirapan. Kemudian Desa Somomorodukuh, Kecamatan Plupuh dan beberapa wilayah lainnya. Harga yang lebih murah yakni sekitar Rp 2000 perkubik menjadi alasan pelanggan hengkang.

Padahal jika dibanding harga air PDAM perkubik Rp 3.250, selisih harga itu sebenarnya dinilai tidak sebanding dengan jaminan kualitas air dari Pamsimas dan PAM Swadaya. “Kalau air PDAM secara fisika dan kimia setiap hari dicek sehingga benar-benar sehat dan aman. Bayangkan air yang keluar dari sumur di wilayah Sragen itu kandungan logam besinya atau FE mencapai 0,9 FE mg liter. Setiap liter mengandung 0,9 gram, kalau dikonsumsi tiap hari sekian kubik betapa banyak kandungan yang masuk ke tubuh. Ini yang mungkin belum sepenuhnya disadari pelanggan,” ujar Supardi.

Supardi menguraikan layanan Pamsimas dan PAM swadaya itu ada yang dikelola desa ada yang dikelola perorangan untuk dikomersilkan. Bahkan sebagian Pamsimas dibangun dari dana aspirasi legislatif. Maraknya dua jenis layanan air minum di pedesaan itu diakui, jelas berdampak buruk bagi PDAM. Hengkangnya ribuan pelanggan itu jelas mengurangi potensi pendapatan.

Dari kalkukasinya, hilangnya 3.250 pelanggan itu akan menghilangkan pendapatan PDAM sebesar Rp 1,2 miliar pertahun. “Kalkulasinya dengan 3.250 pelanggan itu perbulan pendapatannya sekitar Rp 180 juta. Sehingga setahun totalnya hampir Rp 1,2 miliar,” jelasnya.

Pihaknya mendesak Pemkab segera turun tangan membuat regulasi terkait izin pembuatan sumur Pamsimas atau Pam Swadaya. Kehadiran aturan atau Perbup diharapkan bisa memetakan mana wilayah yang boleh didirikan Pamsimas dan mana yang tidak boleh.

BERITA REKOMENDASI