Pandemi, 1300 Buruh Batik di Sragen ‘Nganggur’

Editor: KRjogja/Gus

SRAGEN, KRJOGJA.com – Sedikitnya 1.300 buruh batik di Desa Pilang, Kecamatan Masaran, Sragen, harus kehilangan pekerjaan akibat pandemi Covid-19. Minimnya order selama pandemi membuat para pengusaha batik terpaksa merumahkan para buruhnya.

Kepala Desa Pilang, Sukisno kepada wartawan Selasa (29/9) mengatakan, belum lama ini pihaknya mendata jumlah buruh batik yang terpaksa harus kehilangan pekerjaan sebagai dampak pandemi Covid-19. Setelah lebih dari enam bulan terjadi pandemi para pengusaha batik di Pilang nyaris tidak mendapatkan pendapatan.

Menurut Sukisno, hampir semua pedagang besar yang menjadi pelanggan tetap dari sentra batik Pilang menghentikan pesanan karena stok yang mereka miliki belum laku terjual. “Jangan tanya lagi soal dampaknya. Pasar di Jakarta saja tidak ada yang buka. Di tengah pandemi, sekarang masyarakat berpikir bagaimana masih bisa makan tiap hari. Jadi, kalau punya uang mending dibelanjakan keperluan makan, bukan untuk beli pakaian,” ujarnya.

Sukisno menjelaskan terdapat sekitar 90 pengusaha batik baik kecil hingga besar di wilayahnya. Sebanyak 90% di antaranya sudah menghentikan kegiatan produksi karena daya beli masyarakat turun drastis selama terjadi pandemi Covid-19. “Kemarin kami hitung jumlah buruh batik yang kehilangan pekerjaan sekitar 1.300 orang. Mau bagaimana lagi, sebagian pengusaha batik memang menutup usahanya. Sebagian buruh sudah beralih bekerja sebagai pedagang di pasar. Sementara 70% belum dapat pekerjaan lagi,” jelasnya.

BERITA REKOMENDASI